Filosofi di Balik Kenyalnya Mochi, Benang Merah Tradisi Tahun Baru di Negeri Sakura

1 Januari 2026 11:01 1 Jan 2026 11:01

Thumbnail Filosofi di Balik Kenyalnya Mochi, Benang Merah Tradisi Tahun Baru di Negeri Sakura
Ilustrasi kagami mochi (Foto: Sakuraco)

KETIK, SURABAYA – Jika kalian pernah melihat video dimana dua orang sedang menumbuk dan mengadon mochi sambil berteriak, “hai, yoi, yoi! yoisshou!”, percayalah, itu bukan sekadar atraksi turis. Hal itu termasuk ke dalam rangkaian cara masyarakat Jepang merayakan tahun baru!

Tradisi tersebut dikenal luas sebagai mochitsuki (餅つき), proses menumbuk beras ketan menjadi mochi. 

Beras ketan yang telah dikukus ditumbuk bergantian dalam lesung kayu, menciptakan adonan mochi yang kenyal dan lengket. 

Proses ini menuntut kerja sama dan ritme yang seimbang, sehingga kerap dimaknai sebagai lambang keharmonisan dan kekompakan.

Meski aksi tersebut sering kita lihat di toko mochi yang viral di TikTok, nyatanya menjelang pergantian tahun, mochitsuki dilakukan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, lho!

Hampir berabad-abad berlalu, mochitsuki masih eksis saat perayaan tahun baru di Jepang! Biasanya dilakukan secara berkelompok, baik bersama keluarga, tetangga, maupun komunitas.

Meski kini banyak keluarga menggunakan mesin pembuat mochi, nilai kebersamaan yang melekat pada mochitsuki tetap dipertahankan.

Lebih dari sekadar kegiatan memasak, mochitsuki menjadi simbol kebersamaan dan persiapan spiritual dalam menyambut tahun baru.

Mochi yang dihasilkan dari mochitsuki kemudian hadir dalam berbagai bentuk selama perayaan tahun baru. Salah satu yang paling populer adalah ozōni (お雑煮), sup tradisional yang disajikan pada hari pertama tahun baru.

Ozōni berisi potongan mochi yang dimasak bersama kuah kaldu, sayuran, dan lauk pendamping. 

Menariknya, hidangan ini memiliki variasi regional yang unik! Wilayah Kanto (Tokyo) biasanya menggunakan kuah bening dengan mochi persegi, sementara wilayah Kansai (Kyoto/Osaka) lebih menyukai kuah miso dengan mochi bulat. 

Hidangan ini dipercaya membawa keberuntungan dan kesehatan, sekaligus menjadi simbol awal yang hangat di tahun yang baru.

Selain disajikan sebagai makanan, mochi juga memiliki peran penting sebagai elemen dekorasi dan persembahan melalui kagami mochi (鏡餅).

Kagami mochi terdiri dari dua bulatan mochi yang ditumpuk dan biasanya dihiasi jeruk daidai di bagian atas.

Dekorasi ini diletakkan di rumah sebagai simbol harapan akan keberlanjutan hidup, kemakmuran, dan hubungan antargenerasi. 

Bentuknya yang sederhana menyimpan makna mendalam tentang keseimbangan dan kesinambungan.

Kagami mochi tidak dibiarkan begitu saja hingga mengering. Setelah masa perayaan usai (biasanya sekitar tanggal 11 Januari), masyarakat Jepang melakukan tradisi kagami biraki (鏡開き), yakni membuka kagami mochi untuk kemudian disantap bersama. 

Uniknya, mochi tidak dipotong menggunakan pisau, melainkan dipecah dengan tangan atau alat tumpul. 

Cara ini melambangkan membuka keberuntungan dan menghindari kesan memutus harapan. Beberapa beranggapan bahwa memotong mochi menggunakan pisau dianggap menyerupai ritual seppuku (ritual bunuh diri samurai) yang disebut sebagai pembawa sial.

Potongan mochi hasil kagami biraki kemudian diolah menjadi hidangan sederhana, sering kali kembali disajikan dalam sup atau dipanggang.

Dari riuhnya teriakan dalam mochitsuki hingga heningnya doa di depan kagami mochi, menjadikan mochi sebagai benang merah dalam perayaan tahun baru Jepang.

Tradisi ini menunjukkan bahwa di balik makanan sederhana, tersimpan filosofi tentang kebersamaan, harapan, dan awal yang baru! (*)

Tombol Google News

Tags:

Mochi Mochitsuki Kagami mochi Kagami biraki Ozoni Jepang Hidangan Jepang Tradisi makanan Tahun baru Nataru