KETIK, SURABAYA – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Disdik) menggelar kegiatan Sharing and Gathering: Inspirasi dan Kolaborasi Usaha Guru Honorer di Van Der Man Coffee, Kota Malang. Kegiatan ini menjadi ajang berbagi pengalaman sekaligus apresiasi bagi guru honorer yang berhasil mengembangkan usaha mandiri melalui Program Terapan Ekonomi Guru (PROTEG).
Melalui Program PROTEG, sebanyak 30 guru honorer berhasil menjalankan berbagai unit usaha yang kini berkembang secara berkelanjutan. Usaha tersebut meliputi bidang kuliner, percetakan, permainan anak-anak, tata busana, jasa pendidikan, hingga sektor kreatif lainnya.
Seluruh usaha yang dikembangkan juga telah dilengkapi legalitas, sehingga memiliki kepastian hukum dan peluang ekspansi ke depan.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan PROTEG dalam mendorong kemandirian ekonomi guru honorer. Ia menilai program ini menjadi jawaban atas kebutuhan nyata guru honorer yang selama ini masih membutuhkan perhatian lebih dalam aspek kesejahteraan.
“PROTEG bukan sekadar program, tetapi bukti nyata kepedulian. Kita melihat langsung guru-guru honorer yang kini mampu berdiri mandiri secara ekonomi, dengan usaha yang legal dan berkelanjutan,” ujar Aries.
Ia menambahkan, kolaborasi antara Disdik Jatim dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tersebut. Pendampingan kewirausahaan dinilai mampu meningkatkan kompetensi usaha sekaligus menjaga kualitas dan semangat mengajar para guru honorer.
“Ketika kesejahteraan guru terjaga, semangat mengajar akan semakin kuat. Inilah pendidikan berdampak yang kita bangun bersama untuk masa depan Jawa Timur,” tambahnya.
Pada puncak acara, Disdik Jawa Timur menyampaikan apresiasi kepada 30 guru honorer dengan usaha terbaik sebagai bentuk penghargaan atas ketekunan dan konsistensi mereka dalam mengembangkan usaha produktif di tengah berbagai keterbatasan.
Aryo Saputro Panji Rianto, guru SMA Negeri 3 Malang sekaligus pemilik Coffee Mbah, menjadi salah satu penerima apresiasi. Usahanya yang sempat berhenti total akibat pandemi 2019 kembali bangkit setelah mengikuti PROTEG pada 2025.
Saat ini, produk kopinya telah memasok ke 20 coffee shop di berbagai kota di Indonesia, serta mengembangkan usaha parfum secara online dengan omset mencapai Rp10 juta per minggu.
“Kegagalan bukan akhir, melainkan jeda untuk bangkit lebih kuat,” kata Aryo.
Tidak hanya diwujudkan sebagai produk, PROTEG juga mengembangkan jasa guru untuk berwirausaha. Seperti yang dilakukan oleh Farah, guru SMK 5 Taruna Kediri. Melalui PROTEG, ia memilih mengembangkan usaha bimbingan belajar (bimbel) yang berfokus pada minat dan potensi unik setiap siswa. Farah berhasil menghadirkan model pendidikan tambahan yang dinilai relevan dan sangat dibutuhkan.
Sejak bergabung dengan PROTEG, kapasitas manajemen dan pengembangan usahanya berkembang pesat. Dampaknya terlihat jelas, kepercayaan orang tua siswa meningkat signifikan hingga kini ia membina hampir 50 siswa dengan omset bulanan sekitar Rp6 juta.
Dedikasi Farah menjadi bukti nyata bagi para pendidik lainnya bahwa keahlian mengajar dapat diolah menjadi unit usaha yang tidak hanya bernilai secara finansial, tetapi juga memberi dampak sosial yang luas bagi masa depan generasi muda.
Sementara itu, Dosen Technopreneurship ITS sekaligus pendamping usaha PROTEG, M. Zainul Asrori, menegaskan bahwa perubahan pola pikir merupakan fondasi utama keberhasilan para peserta program.
“Sebelum bekal teknis, yang ditanamkan adalah pola pikir bertumbuh. Ketika mindset berubah, kemampuan teknis akan mengikuti,” ujarnya.
Asrori juga membagikan cerita paling mengesankan dari peserta PROTEG adalah ketulusan mereka sebagai pendidik. Ketulusan tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk entrepreneur, baik berupa keahlian mengajar menjadi jasa bimbingan belajar, kedekatan dengan lingkungan sekolah menjadi peluang pasar, sementara kepekaan sosial menjadi pembeda utama produk.
"Inilah kekuatan unik guru honorer sebagai pelaku usaha. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga nilai dan dampak," tambah dia.
Menurutnya, keberhasilan para peserta mulai usaha kuliner, kopi, jasa pendidikan, hingga produk kreatif bukanlah hasil instan. Itu adalah buah dari proses disiplin, konsistensi, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
"PROTEG membuktikan bahwa ketika guru honorer diberi pendampingan yang tepat, ekosistem yang mendukung, dan ruang untuk bertumbuh, mereka mampu menjadi wirausahawan tangguh tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik," urainya.
Dindik Jatim menegaskan bahwa PROTEG tidak sekadar menjadi program pemberdayaan ekonomi, melainkan juga investasi sosial jangka panjang.
Melalui program tersebut, Disdik Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk mendorong guru honorer agar tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi kreatif yang inovatif serta mampu berkontribusi dalam penguatan kesejahteraan dan pembangunan daerah. (*)
