KETIK, MALANG – Tingkat okupansi hotel di Kota Malang pada hari H Lebaran menunjukkan capaian yang menggembirakan bagi sektor pariwisata dan perhotelan.
Tingkat hunian kamar rata-rata mencapai sekitar 70 persen. Bahkan, sejumlah hotel di berbagai kawasan kota dilaporkan mengalami okupansi penuh hingga 100 persen.
Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya arus wisatawan dan pemudik yang memanfaatkan momentum libur Hari Raya Idulfitri untuk berkunjung sekaligus berlibur di Kota Malang.
Peningkatan okupansi juga terlihat signifikan pada hotel-hotel yang berada di kawasan pusat kota, khususnya di sekitar Masjid Agung Jami' Kota Malang.
Lokasi yang strategis serta kedekatan dengan pusat kegiatan ibadah dan destinasi wisata membuat tingkat hunian hotel di area tersebut, seperti contohnya Hotel Pelangi, mencapai sekitar 80 persen.
Tingginya angka okupansi ini menjadi indikator bahwa Kota Malang masih menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat untuk menghabiskan momen Lebaran bersama keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa okupansi hotel meningkat setelah sempat turun hingga 30 persen saat bulan Ramadan.
"Saat hari H rata-rata okupansi 70 persen, tapi ada beberapa hotel yang penuh, seperti Grand Mercure Malang Mirama itu penuh. Hotel kecil-kecil juga rata-rata penuh, tapi tidak semua. Hotel Pelangi yang dekat Masjid Jami' itu 80 persen. Sebelumnya, saat bulan Ramadan, okupansi turun hingga 30 persen. Saat ini juga sudah mulai turun. Besok kemungkinan sudah kembali normal seperti hari biasa," ungkap Agoes Basoeki pada Kamis, 26 Maret 2026.
Agoes Basoeki selaku Ketua PHRI Kota Malang mengatakan bahwa hotel harus kreatif dalam memanfaatkan momen agar dapat mencapai target, seperti saat Ramadan ketika hotel gencar menawarkan paket iftar. Saat ini, beberapa hotel juga gencar menawarkan paket halal bihalal dan wedding package.
Ia juga mengatakan bahwa dengan kreativitas pengelola hotel, diharapkan okupansi bisa mencapai 60 hingga 70 persen setiap bulannya. Menurutnya, hotel-hotel di Kota Malang tidak boleh menggantungkan pada kegiatan rapat-rapat pemerintah, tetapi harus mampu menarik segmen lain.
"Kreativitas teman-teman harus ditunjukkan, jangan menggantungkan kegiatan rapat atau event-event pemerintah. Saat ini adalah momen yang harus dimanfaatkan oleh teman-teman hotel. Seperti sekarang bulan besar, banyak orang menikah, itu harus dimanfaatkan, termasuk halal bihalal," jelas Manager The Shalimar Boutique Hotel Malang tersebut.
Agoes Basoeki juga mengatakan bahwa banyak orang datang ke Kota Malang pada momen ini untuk bernostalgia bersama teman-teman lama. Oleh karena itu, banyak acara reuni yang dapat ditarik oleh hotel di Kota Malang.
Ia juga berpesan agar pengelola hotel dapat dengan cepat menawarkan paket halal bihalal sebelum masyarakat Malang mencari tempat lain.
"Kebanyakan orang Malang mudik untuk bernostalgia dengan teman-teman, seperti reuni. Itu harus ditangkap. Kalau kita tidak mengejar, nanti mereka lebih memilih tempat lain, padahal hotel memungkinkan untuk mengadakan halal bihalal," ucap Agoes Basoeki.
Ketua PHRI Kota Malang tersebut menuturkan bahwa okupansi hotel saat Lebaran 2026 bisa sama dengan tahun lalu. Namun, menurutnya pada tahun ini pengelolaannya lebih rapi, mulai dari peraturan, koordinasi dengan lembaga pemerintah, hingga komunitas.
"Trafiknya bagus untuk Lebaran. Okupansi sama dengan tahun kemarin, tetapi tahun ini lebih rapi pengaturannya, termasuk koordinasi dengan lembaga pemerintah dan komunitas," tuturnya. (*)
