KETIK, MALANG – Di tengah konflik Iran dengan Amerika Serikat, Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, menyebut Indonesia sebagai one of the safest country atau salah satu negara yang aman. Kondisi ini dinilai menjadi peluang sekaligus kekuatan bagi Indonesia di tengah memanasnya situasi perang di Timur Tengah.
Menteri Pariwisata Republik Indonesia juga telah mengarahkan adanya pergeseran pasar dengan memperkuat pasar wisata dari kawasan Asia serta Australia-Oceana, yang dinilai tidak terdampak langsung oleh gangguan penerbangan di wilayah Timur Tengah.
"Di tengah situasi yang tidak menentu, saat ini kita diuntungkan bahwa Indonesia disebutkan sebagai one of the safest country dan ini menjadi peluang bagi kita harus kita jadikan suatu kekuatan," ucap Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia.
"Yang kedua bu Menteri sudah mengarahkan pada kami semua untuk menetukan pergeseran pasar artinya kita memperkuat pasar-pasar kita di Asia, Australia Oceana yang tidak terdampak penerbangan Timur Tengah saat ini," tambahnya.
Dalam hal ini, Indonesia akan terus mengupayakan untuk bisa tetap stabil dalam sektor pariwisata ketika terjadinya konflik Iran-AS yang makin berkepanjangan. Indonesia juga memiliki koneksi yang baik dengan beberapa negara.
Ni Luh Puspa juga mengungkapkan bahwa pangsa pasar wisatawan ke Indonesia didominasi negara Asia. Malaysia menyumbang sekitar 27 persen, disusul Singapura 18 persen, sementara sisanya berasal dari negara-negara Asia lainnya.
Adapun pasar dari Timur Tengah tercatat sekitar 11 persen. Karena itu, ia menilai porsi 11 persen tersebut perlu disubstitusi dengan mengejar pasar dari negara-negara di Asia.
Tak hanya itu, berdasarkan data 2025, kunjungan wisatawan ke Indonesia masih didominasi oleh negara-negara di Asia dan Australia. Dari data tersebut, diketahui Malaysia masuk posisi tertinggi, kemudian disusul oleh Australia, China, dan beberapa negara lainnya.
Dari data-data tersebut, bisa dimaknai bahwa negara Asia masih mendominasi kunjungan ke Jawa Timur. Menurut Ni Luh Puspa, hal tersebut bisa menjadi strategi taktis yang bisa diambil dalam menghadapi situasi.
"Kalau kita lihat juga tahun 2025, kunjungan kita ke Indonesia masih didominasi oleh negara kita di Asia dan Australia, tertinggi masih Malaysia disusul oleh Australia kemudian ada China, India juga bagus, Korea Selatan, Taiwan," ucap Ni Luh Puspa.
"Pasar kita masih didominasi Asia, artinya pasar kita masih cukup stabil, kalau kita bicara konteks Jawa Timur masih sama, kekuatannya dipegang oleh Malaysia," imbuhnya.
Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia tersebut juga berharap agar pariwisata di Indonesia akan tetap stabil pada situasi geopolitik global yang sedang tidak baik-baik saja.
"Jadi saya pikir ini adalah strategi taktis yang kita ambil untuk menghadapi situasi yang ada di timur tengah, mudah-mudahan kita tetap stabil dalam situasi yang ada," ucap wanita mantan jurnalis senior tersebut penuh harapan.(*)
