KETIK, YOGYAKARTA – Memasuki bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, tradisi nyadran atau ziarah kubur ramai dilakukan masyarakat di Yogyakarta.
Namun, seiring meningkatnya permintaan, harga bunga tabur di sejumlah titik penjualan terpantau mengalami kenaikan tajam. Fenomena kenaikan harga ini terpantau merata di berbagai lokasi berdasarkan pengamatan lapangan.
Di kawasan Wirobrajan misalnya, para pedagang mengakui bahwa kenaikan harga bunga terjadi karena stok yang terbatas berbanding terbalik dengan permintaan warga yang membeludak.
Tri Waryanti, salah satu pedagang bunga di seputaran Wirobrajan, tidak menampik kondisi harga saat ini yang sedang mahal. Senada dengan Tri sajumlah pedagang yang juga berjualan di lokasi yang sama membeberkan bahwa harga bunga dalam keranjang kecil kini menyentuh Rp40 ribu, sementara untuk ukuran sedang dipatok Rp70 ribu dan ukuran besar mencapai Rp140 ribu.
Tradisi Nyadran mulai menggeliat, permintaan bunga tabur melonjak drastis. Pantauan di lapangan menunjukkan kenaikan harga terjadi merata di sejumlah titik penjualan maupun pasar tradisional Yogyakarta. (Foto: Fajar R/Ketik.com)
Begitu juga kondisi yang ada di titik penjualan yang ada di Jalan Bantul, Simpang empat Dongkelan, Pasar Cebongan, seputaran pasar Kranggan dan sebagainya menunjukan adanya kenaikan harga bunga tabur yang meroket.
Kondisi ini juga dirasakan oleh para pembeli, salah satunya adalah Koko. Saat ditemui tengah membeli bunga di Wirobrajan, ia mengatakan bahwa fenomena seperti ini seolah sudah menjadi agenda tahunan bagi warga.
Menurutnya, jika bunga mulai langka di pasaran, harganya bisa melonjak lebih tinggi lagi dari yang ada saat ini.
Koko memaparkan perbandingan kenaikan harga yang cukup signifikan untuk kemasan bungkusan kecil atau yang biasa disebut penak. Pada hari biasa, ia biasanya cukup merogoh kocek di kisaran Rp5 ribu.
Memasuki awal bulan Ruwah, harga tersebut merangkak naik ke angka Rp7,5 ribu. Namun saat ini, harganya sudah melonjak tajam berada di kisaran Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per bungkus.
Senada Dwi yang ditemui usai membeli bunga di seputaran jalan Bantul juga menyampaikan hal sama. Menurutnya jika bulan Ruwah memasuki musim kemarau bunga tabur semakin tinggi lagi harganya.
"Naik tiga atau empat kali lipat dari harga normal," ungkapnya.
Kondisi tersebut menurut sejumlah pedagang di karenakan pada bulam Ruwah saat ini harga kulakannya juga naik 3 hingga 4 kali lipat dari harga biasanya. Kenaikan harga ini diperkirakan akan terus bertahan mendekati datangnya bulan suci Ramadan 1447 H. (*)
