KETIK, PROBOLINGGO – Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, menegaskan pentingnya penguatan internal pesantren guna menghadapi fase Great Transformation atau perubahan global yang penuh ketidakpastian. Hal ini disampaikannya dalam acara Halalbihalal Pegawai Nurul Jadid di Paiton, Probolinggo, 29 Maret 2026.
Kiai Hamid menyoroti bahwa konflik global saat ini berdampak langsung pada aspek ekonomi dan arus informasi di lingkungan pesantren. Ia mengimbau agar pesantren tidak pasif, melainkan harus bertindak strategis dan memperkuat fondasi organisasi.
"Pesantren harus tampil tegas dan mampu memperkuat fondasi dari dalam agar tetap relevan serta berdaya saing di tengah dinamika dunia," ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kiai Hamid memaparkan lima fokus utama yang harus dijalankan: Rekonsiliasi Hati: Saling memaafkan untuk menjaga persatuan internal. Ruhul Khidmah: Memperkuat jiwa pengabdian sebagai benteng moral. Kualitas SDM: Penguasaan teknologi dan kemampuan berpikir kritis. Program Tepat Guna: Penyusunan agenda yang berdampak pada kemandirian pesantren. Efisiensi Anggaran: Pengelolaan dana yang produktif dan bertanggung jawab.
Selain pilar tersebut, Kiai Hamid menekankan pentingnya sikap Wasathiyah (moderat). Pesantren diharapkan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu global yang berkembang.
Ia menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa kekuatan utama pesantren terletak pada nilai-nilai yang kokoh dan semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan zaman. (*)
