KETIK, BONDOWOSO – Momentum Muhasabah Akhir Tahun 2025 dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Bondowoso tidak hanya sebagai refleksi spiritual, tetapi juga ajang evaluasi kinerja pemerintahan. Kegiatan ini digelar di Alun-alun Raden Bagus Asra, Bondowoso, Rabu malam, 31 Desember 2025.
Di hadapan Forkopimda, alim ulama, tokoh masyarakat, dan warga, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid memaparkan sejumlah capaian pembangunan sejak awal masa kepemimpinannya.
Bupati menegaskan, sejak dilantik bersama Wakil Bupati pada 20 Februari 2025, pemerintah daerah langsung bergerak cepat melakukan percepatan pembangunan dengan mengedepankan kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, dukungan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan menjadi fondasi utama perubahan yang kini mulai dirasakan masyarakat Bondowoso secara luas.
Arah kebijakan pembangunan Bondowoso, lanjut Bupati, berpijak pada Visi Bondowoso 2025–2030, yakni Bondowoso Tangguh, Unggul, Berdaya Saing Global, dan Berbudaya dalam Bingkai Keimanan dan Ketakwaan. Implementasinya diwujudkan melalui pembenahan tata kelola pemerintahan.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong percepatan pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, serta perluasan layanan publik yang ramah dan inklusif. Pada saat yang sama, ekonomi lokal terus diperkuat melalui sektor pertanian, industri kreatif, dan pariwisata berbasis kearifan lokal.
Puluhan Program Bergerak Nyata
"Untuk mengejar ketertinggalan, Pemkab Bondowoso meluncurkan 50 Program Unggulan, dengan lebih dari 30 program telah terealisasi hingga akhir 2025," ujarnya
Program-program tersebut menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, mulai dari RANTAS yang menuntaskan pembangunan jalan di lebih dari 200 titik, Bondowoso Menyala, hingga pemberian pupuk gratis bagi ribuan petani tembakau.
Di sektor pertanian, program ASTANI memberikan perlindungan asuransi gagal panen yang diperkuat dengan program 1 Desa 1 Klinik Pertanian. Sementara di sektor pemberdayaan, hadir Permata untuk peningkatan kapasitas perempuan serta DIGISATA sebagai upaya digitalisasi destinasi wisata.
Pemerintah daerah juga memperluas jaring pengaman sosial melalui Jaminan Kesehatan Gratis dalam program UHC, Beasiswa Bondowoso Unggul bagi ratusan mahasiswa, Mall Pelayanan Publik lewat program SATU PADU, hingga layanan kesehatan ternak gratis sebagai upaya menghadirkan negara di tengah masyarakat.
Selain itu, berbagai bantuan sosial dan keagamaan turut disalurkan, seperti bisarah bagi hafidz Al-Qur’an, BPJS Ketenagakerjaan gratis untuk puluhan ribu buruh tani, bantuan guru ngaji, listrik gratis bagi ribuan keluarga, rehabilitasi rumah tidak layak huni, Bosda Madin, hingga layanan Isbat Nikah Gratis melalui program Bupati Mantu.
Ekonomi Melonjak, Masalah Sosial Menurun
Rangkaian program tersebut berdampak signifikan. Bondowoso meraih lebih dari 75 penghargaan dan prestasi pembangunan. Data BPS mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 6,46 persen pada Triwulan III 2025, tertinggi se-Tapal Kuda dan menempati peringkat kedua di Jawa Timur.
Indikator sosial juga menunjukkan tren positif. Angka kemiskinan turun menjadi 12,20 persen, tingkat pengangguran menurun hingga 2,55 persen, prevalensi stunting berkurang drastis menjadi 11,2 persen, serta kasus dispensasi kawin anak turun hampir 50 persen dibanding tahun sebelumnya.
Meski capaian tersebut dinilai menggembirakan, Bupati Abdul Hamid Wahid menegaskan pemerintah daerah tidak akan berpuas diri, terutama di tengah keterbatasan akibat kebijakan efisiensi anggaran nasional.
“Kami memilih tetap optimis. Dengan kebersamaan ulama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga, Bondowoso akan terus melangkah menjadi daerah yang berkah dan berkemajuan,” tegasnya.
Dalam rangkaian muhasabah tersebut, Bupati mengajak masyarakat menjadikan pergantian tahun sebagai momentum introspeksi sekaligus penguatan tekad bersama untuk melanjutkan pembangunan Bondowoso dengan semangat Berkah, Berkualitas, Akseleratif, dan Holistik menuju Tahun Baru 2026.(*)
