KETIK, JAKARTA – Komisi V DPR RI memberikan catatan kritis terkait transformasi branding di lingkungan Bandara Internasional Juanda saat melakukan kunjungan kerja ke Surabaya, Jawa Timur, Senin, 23 Februari 2026.
Kunjungan kerja tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ridwan Bae dari Fraksi Partai Golkar.
Dalam kesempatan itu, Komisi V mengingatkan agar identitas pahlawan nasional yang melekat pada nama bandara tidak tergerus akibat transformasi korporasi.
Anggota Komisi V DPR RI Irine Yusiana Roba Putri menyampaikan langsung catatan tersebut kepada InJourney Airports selaku pengelola Bandara Juanda saat ini.
“Bandara adalah wajah bangsa. Saya melihat sekarang branding korporasi InJourney ini lebih menonjol daripada identitas bandaranya sendiri,” kata Irine Yusiana, Selasa, 24 Februari 2026.
Menurutnya, pemberian nama pahlawan pada Bandara Juanda memiliki nilai historis dan filosofis yang mendalam. Ia mengingatkan agar kepentingan korporasi tidak sampai menenggelamkan jati diri bandara yang menyandang nama Ir. H. Djuanda.
“Jangan sampai kepentingan korporasi menenggelamkan jati diri tersebut,” ujarnya.
Ia berharap modernisasi manajemen bandara tetap berjalan selaras dengan penghormatan terhadap sejarah bangsa. Penempatan logo dan atribut visual perusahaan diminta tidak mengurangi makna nama besar Ir. H. Djuanda sebagai simbol kedaulatan maritim dan udara Indonesia.
Selain persoalan identitas, Irine juga menyoroti aspek layanan operasional yang langsung dirasakan pengguna jasa. Salah satu indikator yang disorot adalah performa penanganan bagasi atau First Bag-Last Bag yang ditargetkan berada pada kisaran 20-40 menit sesuai standar internasional.
“Indikator keberhasilan itu bukan pada dominasi logo di terminal, tapi pada kecepatan layanan,” ujarnya.
Menurutnya, performa layanan bagasi harus benar-benar diwujudkan agar wajah bangsa tidak hanya terlihat kuat secara visual, tetapi juga prima dalam pelayanan.
Berdasarkan paparan manajemen, Bandara Juanda kini dikelola melalui enam regional guna optimalisasi operasional. Komisi V berharap transformasi tersebut tetap memprioritaskan pengalaman pengguna atau customer experience tanpa mengorbankan nilai historis yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Timur.(*)
