KETIK, JAKARTA – Batik sebagai warisan budaya bangsa terus berkembang melalui berbagai inovasi yang digerakkan pelaku UMKM di daerah. Di Desa Karangpatihan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pengrajin difabel turut mengambil peran dalam mengembangkan batik ciprat yang menjadi ciri khas kampung tersebut.
Upaya penguatan keterampilan para pengrajin difabel dilakukan melalui program pemberdayaan yang dijalankan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Baitulmaal Muamalat (BMM). Kegiatan ini mencakup pendampingan produksi, peningkatan kemampuan teknis, serta dukungan pengembangan usaha.
Direktur Eksekutif BMM, Tegar Sangga Barkah, menyampaikan bahwa membatik merupakan salah satu potensi yang telah dimiliki para penyandang disabilitas di Karangpatihan, yang dikenal sebagai Kampung Difabel.
"Program ini dirancang berlangsung selama satu tahun dengan fokus meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperkuat kapasitas usaha para pengrajin. Pendampingan dilakukan agar batik ciprat Karangpatihan dapat memiliki daya saing dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat," ujar Tegar dalam pernyataannya, Jumat, 27 Maret 2026.
Desa Karangpatihan sendiri telah dikenal sebagai salah satu sentra batik ciprat yang melibatkan penyandang disabilitas, termasuk kelompok tunagrahita, dalam proses produksinya. Melalui pengembangan keterampilan dan pendampingan usaha, para pengrajin diharapkan dapat terus berkarya sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi.
