KETIK, BATU – Berawal dari ketertarikan pada fermentasi eco enzym, Kusmiati, warga Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu, kini mengembangkan jamu probiotik berbahan herbal hasil pembelajaran langsung dari peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang memiliki keahlian di bidang fermentasi.
Ketekunan tersebut mengantarkan Kusmiati mendalami pembuatan classic enzym dan jamu probiotik yang diyakini memiliki beragam manfaat bagi kesehatan. Proses belajar itu bermula saat ia mengikuti kelas eco enzym pada masa pandemi Covid-19.
“Saya awalnya ikut kelas eco enzym, kemudian diajak memperdalam pembuatan classic enzym dan jamu probiotik. Pesertanya terbatas, sekitar 20 orang, bahkan ada yang berasal dari Malaysia,” ujar Kusmiati saat ditemui di kediamannya beberapa waktu yang lalu.
Classic enzym merupakan minuman hasil fermentasi buah-buahan yang dicampur dengan madu dan air. Meski melalui proses fermentasi, minuman ini tetap halal dikonsumsi dan dipercaya berkhasiat bagi tubuh.
Dalam pelatihan tersebut, Kusmiati juga memperoleh pengetahuan tentang fermentasi probiotik berbahan dasar tempe, yoghurt, dan roti. Berangkat dari kegemarannya meracik jamu secara mandiri, ia kemudian diarahkan untuk mengembangkan minuman probiotik dalam bentuk jamu tradisional.
“Saya terbiasa membuat jamu sendiri dan jarang membeli. Dari pelatihan itu saya baru memahami bahwa meracik jamu memiliki pedoman serta takaran yang harus diperhatikan,” tuturnya.
Setelah memahami materi pelatihan, Kusmiati menyadari bahwa berbagai tanaman di sekitar rumahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar jamu probiotik. Beberapa di antaranya seperti bayam brazil, empon-empon, kunyit, serta beragam tanaman herbal lainnya.
Ia juga mendapatkan wawasan baru terkait pengolahan rempah-rempah. Menurut Kusmiati, bahan jamu tidak dianjurkan untuk diparut karena dapat menimbulkan dampak kurang baik bagi tubuh.
“Jika diparut, kandungan curcuma bisa hilang dan berpotensi menjadi racun. Hal itu yang menyebabkan konsumsi jamu berlebihan sering dikaitkan dengan gangguan ginjal,” jelasnya.
Keunikan jamu probiotik racikan Kusmiati terletak pada penggunaan classic enzym yang telah difermentasi selama dua tahun. Namun hingga kini, produk tersebut belum dipasarkan secara luas lantaran terkendala proses perizinan yang dinilai cukup kompleks.
Saat ini, jamu probiotik buatannya hanya dikonsumsi oleh keluarga dan kerabat terdekat yang telah mempercayai kualitas produk tersebut. Meski demikian, Kusmiati terbuka untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat yang ingin belajar meracik jamu probiotik secara mandiri.
“Saya tidak berfokus untuk berjualan. Kalau ada yang memesan, baru saya buat agar tetap segar. Kalau ada yang ingin belajar membuat jamu sendiri, saya siap berbagi ilmu,” imbuhnya.
Kusmiati meyakini jamu probiotik dapat berfungsi sebagai penunjang daya tahan tubuh karena mengandung bakteri baik yang membantu melawan bakteri jahat. Selain menjaga imunitas, minuman fermentasi ini juga dipercaya berperan dalam mencegah berbagai penyakit. (*)
