KETIK, BATU – Jejak kolonial dan ruang budaya Kota Batu dihidupkan kembali melalui Batu Heritage Walk 2026, sebuah program aktivasi kawasan heritage yang diinisiasi Direktorat Aktivasi Budaya dan Pusaka Jejaring Kota Kreatif Indonesia (ICCN), pada Selasa, 20 Januari 2026.
Kegiatan ini menjadi upaya menghidupkan kembali ruang-ruang pusaka kota agar tidak sekadar menjadi bangunan statis, tetapi berfungsi sebagai aset budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis sejarah.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, Muhammad Anwar, menjelaskan bahwa Batu Heritage Walk 2026 merupakan bentuk aktivasi ruang kreatif melalui pendekatan experience journey, di mana peserta diajak menyusuri langsung jejak sejarah Kota Batu dari masa kolonial hingga pascakemerdekaan.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Jelajah Pusaka Nusantara oleh ICCN. Kawasan heritage diposisikan sebagai ruang hidup yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan potensi ekonomi kreatif,” ujar Anwar.
Dalam pelaksanaannya, Batu Heritage Walk 2026 menelusuri sejumlah titik bersejarah di pusat Kota Batu. Rute perjalanan dimulai dari kawasan Alun-alun Kota Batu yang meliputi area Stanplat dan Pasar Besar, kemudian berlanjut ke Titik Nol Kota Batu di sekitar Jalan Gajah Mada.
Peserta selanjutnya menyusuri koridor jalan kolonial Juliana Staat yang mencakup Jalan Gajah Mada, Jalan Panglima Sudirman, hingga Jalan Trunojoyo.
Perjalanan dilanjutkan ke kawasan Pecinan dan Klenteng Kong Hucu, Toko Luxor yang dikenal sebagai bekas pusat hiburan rakyat, serta Losmen Kawi yang memiliki keterkaitan dengan maestro lukis Indonesia, Affandi Koesoema.
Rute berikutnya mencakup kawasan Karmel, meliputi Paroki Simon Stock, SDK Sang Timur, Kesusteran Karmel, hingga Rumah Sakit Katolik Margi Rahayu.
Selain itu, peserta juga mengunjungi sejumlah bangunan ikonik lainnya, seperti El Hotel Kartika Wijaya atau Vila Jambe Dawe, Gereja Jago (GPIB Batu) di Jalan Trunojoyo, kawasan Karmelitas Syalom dan Rumah Gelastan di sepanjang Jalan Hasanudin, serta Wisma Kereta Api Indrakila yang berada di kaki Gunung Panderman.
Sebagai penutup, perjalanan diarahkan ke Omah Djamoe Cak Mad Berlin yang mengangkat tradisi jamu sebagai daya tarik hidup (living attraction). Di lokasi ini, peserta diajak mengenal konsep hulu–hilir tanaman obat sekaligus mencicipi racikan jamu tradisional.
Anwar menyebut, pemilihan rute tersebut mencerminkan peran Kota Batu pada era Hindia Belanda sebagai kawasan peristirahatan elit yang dikenal dengan sebutan De Kleine Zwitserland, sekaligus pusat aktivitas sosial, religi, dan ekonomi perkebunan.
“Melalui narasi bangunan, kawasan religi, dan ruang budaya, peserta diajak membaca ulang Kota Batu sebagai kota pusaka yang terus bertransformasi,” katanya.
Ia menambahkan, hasil evaluasi bersama jejaring ICCN, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), serta komunitas pemerhati wisata merekomendasikan segmentasi materi, penggunaan alat bantu visual, dan pelibatan interpreter lokal agar pengalaman heritage semakin kuat dan autentik.
“Heritage walk ini berhasil mengubah kawasan pusaka menjadi living museum. Ke depan, kolaborasi jejaring nasional ICCN akan terus mendorong pengembangan wisata pusaka berkelanjutan sebagai penguat identitas Kota Batu sebagai kota kreatif berbasis sejarah,” pungkas Anwar. (*)
