KETIK, MALANG – Sebanyak 100 finalis dari 8 provinsi di Indonesia berlomba merebut juara dalam Final Liga Matematika Santri Nusantata (LIMAS). Gelaran bergengsi yang digelar oleh Prodi Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang (Unisma) itu membuktikan bahwa matematika adalah pelajaran prestisius.
Ketua Prodi Matematika Unisma, Isbadar Nursit menjelaskan sebelum mencapai final, peserta telah bersainh dalam Pre-University. Santri dari berbagai sekolah bergabung secara online untuk mengikuti 14 pertemuan pembelajaran dari dosen. Peserta terbaik mendapatkan Golden Ticket untuk masuk ke Prodi Pendidikan Matematika Unisma.
"Bagi siswa yang mengikuti secara rutin, kegiatan ini akan diekuivalensi di mata kuliah. Sehingga kalau dia daftar di Pendidikan Matematika, dia bisa mengekuivalensi sebagai mata kuliah Analisis Olimpiade," ujarnya, Sabtu, 7 Februari 2026.
Barulah setelah itu LIMAS dilakukan sejak Januari untuk babak penyisihan. Dalam babak final kali ini memperebutkan 20 medali emas, 30 medali perak, dan 50 medali perunggu.
"Limas itu kita pesertanya ada sekitar 200, dan yang bisa masuk final sekitar 100. Peserta terjauh dari Mamuju, Kerinci Jambi, Bali, dan Kalimantan, ada dari Balikpapan, Jakarta. Jadi ada total sekitar 8 provinsi yang lolos dan sudah join," katanya.
Tak hanya medali, para juara jiga mendapatkan hadiah berupa uang tunai, piala, dan tabungan pendidikan yang bisa dicairkan apabila menjadi mahasiswa Unisma. Isbadar menjelaskan bahwa kegiatan tersebut akan dilaksanakan rutin setiap tahunnya.
"Kami berusaha untuk semakin dikenal. Oleh masyarakat dan memberikan sumbangsih ke Prodi Pendidikan Matematika. Jadi kita akan konsistensikan tiap tahun," jelasnya.
Tak hanya kegiatan untuk siswa, Prodi Pendidikan Matematika Unisma juga menggelar Gerakan Menulis Guru Matematika (GEMAR). Melalui gerakan tersebut diharapkan guru-guru mampu menghasilkan buku ber-ISBN.
"Selain menunggu siswa ujian di babak final, gurunya ikut pelatihan. Guru mendapatkan pengalaman dan wawasan. Setidaknya punya karya yang bisa dipakai untuk jenjang profesinya karena buku atau karya yang bisa dihasilkan terdaftar di ISBN," ungkapnya. (*)
