KETIK, BLITAR – Pemerintah Kabupaten Blitar mulai mendorong perubahan nyata dalam budaya kerja aparatur sipil negara (ASN). Melalui Surat Edaran (SE) Bupati Blitar tentang transformasi budaya kerja, penghematan energi kini tak lagi sekadar wacana melainkan aksi yang langsung terlihat di lapangan.
Salah satu langkah konkret datang dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blitar. Para pegawai kompak meninggalkan kendaraan bermotor berbahan bakar minyak (BBM) dan beralih menggunakan transportasi ramah lingkungan saat berangkat ke kantor, Kamis 16 April 2026.
Di halaman kantor yang biasanya dipenuhi deru mesin, kini tergantikan bunyi halus roda sepeda. Sebuah perubahan sederhana, tapi sarat makna.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Blitar, Agus Zaenal Arifin, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk keseriusan instansinya dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
“Ini bukan sekadar imbauan, tapi komitmen bersama. Kita ingin menghadirkan ruang kerja yang bersih, nyaman, dan minim polusi,” ujarnya kepada awak media.
Menurutnya, pengurangan penggunaan kendaraan bermotor bukan hanya berdampak pada penghematan BBM, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap penurunan emisi gas buang yang selama ini menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas udara.
Lebih dari itu, gerakan ini juga menjadi bagian dari edukasi internal ASN agar mulai membangun kebiasaan hidup hemat energi.
Agus menjelaskan, kampanye ini merupakan tindak lanjut dari SE Bupati Blitar yang mendorong penggunaan kendaraan non-BBM, seperti sepeda dan motor listrik, serta pembatasan penggunaan kendaraan dinas.
“Mulainya dari hal kecil, seperti bersepeda ke kantor. Tapi dampaknya bisa besar kalau dilakukan bersama,” imbuhnya.
Ia berharap, langkah ini tidak berhenti di lingkungan birokrasi saja, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat luas untuk mulai mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan.
“Kalau ASN bisa memulai, masyarakat juga pasti bisa. Ini tentang memberi contoh bahwa hidup hemat energi itu bukan hal sulit, bahkan di tengah rutinitas yang padat,” tandasnya.
Gerakan ini menjadi sinyal bahwa perubahan tak selalu harus besar. Kadang, cukup dengan satu kayuhan pedal arah masa depan bisa ikut bergeser, pelan tapi pasti. (*)
