Hari Buku Nasional, Nurudin: Literasi Kunci Kemajuan Bangsa di Tengah Gempuran Konten Digital

17 Mei 2026 09:00 17 Mei 2026 09:00

Dafa Wahyu P., Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Hari Buku Nasional, Nurudin: Literasi Kunci Kemajuan Bangsa di Tengah Gempuran Konten Digital

Nurudin, Dosen Komunikasi UMM sekaligus Penulis Buku. (Foto: Nurudin for Ketik.com)

KETIK, MALANG – Momentum Hari Buku Nasional dimaknai bukan sekadar peringatan tahunan oleh penulis sekaligus akademisi, Nurudin. Menurutnya, budaya membaca dan menulis merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas masyarakat sekaligus kemajuan sebuah bangsa.

Ia menilai buku bukan hanya kumpulan tulisan, melainkan ruang dialog yang mempertemukan pengalaman, gagasan, hingga refleksi kehidupan yang mampu membentuk pola pikir masyarakat menjadi lebih kritis.

“Bagi saya, Hari Buku Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk kembali mengingat bahwa kemajuan bangsa selalu berkaitan erat dengan kualitas literasinya. Buku bukan hanya kumpulan halaman berisi tulisan, melainkan ruang dialog yang mempertemukan pengalaman dan gagasan untuk kemajuan bangsa,” ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026.

Budaya membaca, tambahnya, tidak akan tumbuh hanya melalui kampanye sesaat. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga kebijakan pemerintah yang memberi akses luas terhadap buku dan ruang literasi.

“Hari Buku Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bangsa bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan pikiran masyarakat melalui literasi yang kuat,” kata Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Ia menegaskan budaya membaca dan menulis memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat. Membaca dinilai mampu memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus menumbuhkan empati sosial.

Sementara itu, menulis menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, merapikan pola pikir, hingga meninggalkan jejak pengetahuan bagi generasi berikutnya.

“Masyarakat yang terbiasa membaca dan menulis biasanya lebih terbuka terhadap perubahan dan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Budaya literasi juga berpengaruh pada kreativitas, inovasi, bahkan kemajuan ekonomi,” jelasnya.

Dalam pengamatannya, kondisi literasi masyarakat Indonesia saat ini berada pada situasi yang kompleks. Di satu sisi, perkembangan teknologi digital membuka akses informasi yang sangat luas, termasuk bagi generasi muda.

Namun di sisi lain, budaya serba instan membuat sebagian masyarakat mulai kehilangan kebiasaan membaca secara mendalam.

“Banyak anak muda terbiasa mengonsumsi informasi singkat dan instan sehingga kesabaran membaca teks panjang mulai berkurang. Literasi hari ini bukan lagi sekadar bisa membaca atau tidak, tetapi kemampuan memahami, menyaring, dan mengkritisi informasi,” terangnya.

Meski demikian, Nurudin melihat masih banyak ruang optimisme. Ia menilai munculnya komunitas baca, klub buku, hingga ruang diskusi kreatif di berbagai daerah menunjukkan minat literasi sebenarnya masih tumbuh di kalangan generasi muda.

Menurutnya, media sosial dan konten digital juga dapat menjadi peluang besar apabila dimanfaatkan secara tepat untuk mendukung budaya literasi.

“Media sosial bisa menjadi ancaman sekaligus peluang. Jika hanya dipenuhi konten dangkal tentu akan melemahkan minat membaca mendalam. Tetapi di sisi lain, media digital juga membuka jalan baru bagi dunia literasi karena banyak buku dan diskusi kini dikenalkan melalui video singkat, podcast, maupun media sosial,” ungkapnya.

Penulis yang sudah menerbitkan puluhan buku ini menilai, tantangan terbesar saat ini bukan melawan perkembangan teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkan teknologi agar menjadi jembatan menuju budaya membaca yang lebih kuat.

Nurudin juga menekankan bahwa generasi muda tidak bisa dipaksa mencintai buku hanya melalui nasihat. Menurutnya, minat membaca harus dibangun melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan anak muda.

“Generasi muda perlu diperlihatkan bahwa membaca itu menyenangkan dan dekat dengan kehidupan mereka. Buku tentang musik, olahraga, bisnis, kesehatan mental, atau kisah inspiratif bisa menjadi pintu masuk agar mereka tertarik membaca,” ujarnya.

Selain menghadirkan buku sesuai minat pembaca muda, ia juga mendorong agar ruang literasi seperti diskusi buku, festival literasi, klub membaca, hingga konten digital bertema buku dikemas lebih kreatif dan akrab dengan gaya komunikasi generasi muda.

“Ketika seseorang menemukan buku yang terasa berbicara tentang dirinya, biasanya minat membaca akan tumbuh dengan sendirinya,” pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Hari Buku Nasional Akademisi Umm Universitas Muhammadiyah Malang Nurudin UMM literasi