KETIK, BATU – Minat baca masyarakat di Kota Batu perlahan menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah kunjungan ke perpustakaan daerah yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Batu, baik secara langsung maupun melalui layanan digital e-book.
Kepala Bidang Perpustakaan Disperpusip Kota Batu, Ernawati Wahyuningsih, mengatakan tingkat kegemaran membaca masyarakat Kota Batu saat ini masih tergolong rendah, meski berada sedikit di atas rata-rata nasional berdasarkan kajian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
“Berdasarkan kajian Perpustakaan Nasional, tingkat kegemaran membaca di Kota Batu berada di angka 56,71, sedangkan rata-rata nasional sebesar 54,8,” ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026.
Pihaknya juga mencatat tren kunjungan perpustakaan terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Sepanjang 2026, rata-rata kunjungan perpustakaan setiap bulan mencapai 6.646 kunjungan, baik dari layanan offline maupun online melalui e-book.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan rata-rata bulanan tahun 2025 yang hanya mencapai sekitar 4.224 kunjungan.
“Jika dibandingkan tahun 2025, rata-rata kunjungan Januari hingga April 2026 meningkat hampir 50 persen,” katanya.
Menurut Ernawati, peningkatan kunjungan paling tinggi biasanya terjadi saat libur sekolah. Pada periode tersebut, pelajar memiliki lebih banyak waktu untuk datang ke perpustakaan dibanding hari aktif sekolah.
“Perpustakaan biasanya paling ramai saat liburan sekolah karena siswa dapat memanfaatkan waktu luang mereka untuk membaca dan berkunjung,” jelasnya.
Ia menambahkan, aktivitas yang paling banyak dilakukan pengunjung masih didominasi kegiatan membaca. Sementara kelompok usia yang paling sering datang ke perpustakaan adalah anak-anak, terutama dalam bentuk kunjungan kelompok.
Untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat, Disperpusip Kota Batu terus mengembangkan perpustakaan menjadi ruang publik yang aktif menjangkau masyarakat hingga sekolah dan pelosok desa.
“Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan dan pendampingan komunitas literasi,” ujarnya.
Berbagai program pun disiapkan untuk menarik minat masyarakat dari berbagai kelompok usia. Untuk anak-anak, Disperpusip menghadirkan program BABEKU atau Membaca dan Berkreasi dalam Kunjungan Perpustakaan, serta layanan SI BOLING atau perpustakaan keliling.
Sementara bagi remaja, perpustakaan menyediakan berbagai koleksi e-book yang dinilai lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda sebagai pengguna aktif gawai.
Sedangkan untuk masyarakat dewasa, Disperpusip menghadirkan program SITATU atau Inklusi Sosial Perpustakaan Kota Batu yang dikemas dalam bentuk pelatihan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat.
“Selain itu, berbagai lomba dan kegiatan literasi juga rutin kami selenggarakan untuk menarik minat masyarakat datang ke perpustakaan,” ungkap Ernawati.
Ia menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi naik turunnya jumlah kunjungan perpustakaan, mulai dari kesesuaian jam layanan, ketersediaan koleksi bacaan, hingga kenyamanan dan kepuasan layanan yang diterima pengunjung.
Dalam pelaksanaannya, Disperpusip juga menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya belum bisa membuka layanan perpustakaan di akhir pekan selama tahun 2026 akibat efisiensi anggaran.
Selain itu, keterbatasan anggaran juga membuat pihaknya belum dapat menambah koleksi e-book yang justru menjadi salah satu layanan paling diminati kalangan remaja.
“Karena efisiensi, kami belum bisa menambah koleksi e-book dan layanan akhir pekan seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Untuk terus meningkatkan minat baca masyarakat, Disperpusip Kota Batu mengaku akan memperkuat promosi layanan, menyediakan koleksi yang sesuai kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan.
“Kami berharap budaya membaca masyarakat terus meningkat karena membaca merupakan fondasi penting dalam membangun bangsa yang maju dan berdaya saing,” tutur Ernawati.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik semata, tetapi juga budaya membaca yang mampu membentuk pola pikir, karakter, dan kualitas generasi masa depan.
“Melalui budaya membaca yang kuat, masyarakat akan semakin terbuka terhadap pengetahuan, inovasi, dan perkembangan zaman sehingga mampu menciptakan generasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan berakhlak baik,” pungkasnya.
Ia menegaskan perpustakaan diharapkan terus hadir sebagai pusat literasi sekaligus ruang belajar masyarakat sepanjang hayat.
“Perpustakaan hadir demi martabat bangsa,” tandasnya. (*)
