Awas Gagal Ginjal Mengintai (2)

Menakar Napas Layanan Hemodialisa Sleman, Sebaran Mesin di 15 RS Jadi Tumpuan Hidup Pasien

17 Mei 2026 09:31 17 Mei 2026 09:31

Fajar Rianto, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Menakar Napas Layanan Hemodialisa Sleman, Sebaran Mesin di 15 RS Jadi Tumpuan Hidup Pasien

Sebuah mesin hemodialisa (cuci darah) tampak siap beroperasi di salah satu rumah sakit. Lonjakan kasus gagal ginjal hingga 35,9 persen di Bumi Sembada memaksa fasilitas kesehatan bekerja ekstra keras melayani pasien yang kini mulai merambah usia remaja. (Foto: Ilustrasi/Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Di balik melonjaknya angka penderita gagal ginjal di Kabupaten Sleman yang menembus angka 3.399 penderita, terdapat perjuangan tanpa henti di ruang-ruang sterilisasi rumah sakit.

Layanan Hemodialisa (HD) atau cuci darah kini bukan sekadar layanan medis biasa, melainkan tumpuan hidup bagi ribuan warga Bumi Sembada.

Namun, seiring dengan kenaikan kasus yang mencapai 35,9 persen, kesiapan infrastruktur dan ketersediaan mesin cuci darah kini berada dalam ujian besar untuk menyeimbangkan antara kapasitas alat dan ledakan jumlah pasien yang membutuhkan pertolongan.

Layanan cuci darah di Kabupaten Sleman kini tidak lagi hanya bertumpu pada fasilitas pemerintah daerah, melainkan telah membentuk sebuah jejaring layanan yang tersebar di belasan rumah sakit, baik milik pemerintah pusat, daerah, universitas, hingga swasta.

Berdasarkan data terbaru "Mesin HD RS Berdasarkan RS Online" dan data eksisting, tercatat sedikitnya 15 rumah sakit di wilayah Sleman yang kini bahu-membahu melayani pasien gagal ginjal kronis.

Peta Kekuatan Mesin HD di Bumi Sembada

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Cahya Purnama, MKes, Jumat, 15 Mei 2026, menjelaskan bahwa total kapasitas mesin cuci darah di Sleman sebenarnya cukup besar, namun distribusinya harus dipahami oleh masyarakat agar tidak terjadi penumpukan di satu titik.

Berdasarkan data yang dihimpun, RS Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) saat ini memegang kapasitas terbesar dengan 43 mesin (40 di ruang reguler dan 3 di ruang isolasi).

Disusul oleh RSUP Dr Sardjito sebagai rumah sakit rujukan pusat dengan 33 mesin, serta RS Umum PKU Muhammadiyah Gamping yang memiliki 32 mesin.

"Kekuatan infrastruktur kita didukung oleh sinergi berbagai pihak. RSUD Sleman sebagai milik pemda diperkuat 31 mesin, sementara RS Umum Puri Husada memiliki 17 mesin. Bahkan rumah sakit seperti RS Umum Condong Catur (10 mesin) dan RS JIH (8 mesin) juga menjadi pilar penting," ujar dr Cahya Purnama.

Jika ditotal secara keseluruhan dari 15 RS yang terdata, terdapat lebih dari 200 unit mesin cuci darah yang beroperasi di wilayah Sleman. Namun, dr Cahya mengingatkan bahwa beban kerja setiap unit sangatlah tinggi.

Pada tahun 2025 saja, kunjungan rawat jalan pasien gagal ginjal mencapai ribuan sesi. RSUD Prambanan yang memiliki 11 mesin, misalnya, harus melayani beban kunjungan yang sangat padat untuk meng-kaver wilayah Sleman timur.

Fasilitas Isolasi dan Tantangan Khusus

RSUD Sleman milik Pemkab Sleman telah mengembangkan fasilitas yang sangat spesifik. Dari 31 mesin yang tersedia, distribusinya sangat detail: 24 mesin khusus untuk pasien BPJS, 1 mesin di ruang ICU untuk kondisi kritis, 2 mesin di ruang isolasi biasa, 3 mesin untuk pasien umum, dan 1 mesin sangat khusus yakni Ruang Isolasi Airborne.

"Alokasi mesin isolasi ini sangat vital. Pasien gagal ginjal yang juga mengidap penyakit menular lewat udara (airborne) seperti TBC aktif tetap harus mendapatkan hak cuci darah tanpa membahayakan pasien lain. Kami memastikan prosedur keamanan medis tetap nomor satu di tengah keterbatasan," tegas dr Cahya.

Namun, tingginya angka temuan kasus baru (insidensi) tetap menciptakan tantangan antrean. Dengan status pasien lama yang harus menjalani cuci darah rutin dua hingga tiga kali seminggu secara permanen, "slot" atau jadwal bagi pasien baru menjadi sangat terbatas.

Mesin-mesin di berbagai RS seperti RS Umum Sakina Idaman (8 mesin), RS Umum Queen Latifa (6 mesin), hingga RS Khusus Bedah An-Nur (4 mesin) pun hampir selalu terisi penuh dalam beberapa sif pengerjaan.

Data juga menunjukkan adanya pengembangan kapasitas di lapangan. Misalnya, RS Mitra Paramedika dan RS UAD yang meski di data online belum tercatat, namun secara eksisting masing-masing telah mengoperasikan 5 mesin cuci darah. Begitu juga dengan RS Islam Yayasan PDHI dan RS Umum Hermina Yogya yang mulai menambah kapasitas layanan mereka untuk menampung luapan pasien.

Negara Hadir: Garansi Biaya Melalui JKN APBD

Salah satu momok terbesar bagi pasien gagal ginjal adalah biaya. Prosedur cuci darah yang dilakukan seumur hidup memerlukan biaya fantastis mencapai jutaan rupiah per minggu jika ditanggung secara mandiri. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Sleman mengambil langkah politik anggaran yang berani melalui Peraturan Bupati Nomor 10.1 Tahun 2020.

Pemkab Sleman memastikan seluruh penderita penyakit kronis, termasuk gagal ginjal, didaftarkan ke dalam program JKN-KIS melalui skema PBPU (Pekerja Bukan Penerima Upah) yang iurannya dibiayai penuh oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Kami menyadari gagal ginjal adalah penyakit katastropik yang bisa memiskinan satu keluarga dalam sekejap. Maka, kebijakan kami jelas: penderita gagal ginjal kronis di Sleman harus terkaver JKN. Jika ada kartu yang nonaktif karena masalah administratif, tim kami di lapangan akan melakukan reaktivasi dalam waktu singkat agar proses cuci darah tidak terhenti hanya karena urusan kertas kerja," tegas dr Cahya.

Visi Layanan Satelit dan CAPD

Melihat tren kasus yang meningkat 35,9 persen, Dinkes Sleman tidak ingin hanya menambah mesin. Strategi jangka panjang yang disiapkan adalah mendorong metode Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau cuci darah lewat perut sebagai alternatif utama.

CAPD dinilai lebih manusiawi bagi pasien usia produktif karena bisa dilakukan secara mandiri di rumah atau tempat kerja, sehingga mengurangi beban antrean mesin di rumah sakit.

"Infrastruktur fisik seperti mesin di 15 RS tadi memang penting, tapi efisiensi layanan melalui CAPD terus kami edukasikan. Fokus kami adalah bagaimana pasien tetap bisa memiliki kualitas hidup yang baik dan tetap produktif," tambahnya.

Meski sebaran mesin sudah merata dari Gamping hingga Prambanan, pesan dr. Cahya tetap konsisten: mencegah jauh lebih baik daripada bergantung pada mesin sepanjang hayat. Namun bagi mereka yang sudah terdampak, data menunjukkan bahwa Sleman telah menyiapkan "benteng" infrastruktur yang kuat.

Tidak ada warga Bumi Sembada yang harus berjuang sendirian melawan penyakit ini; dukungan medis tersedia di belasan titik, dan biayanya pun telah dijamin oleh negara.

Adapun Sebaran Mesin Hemodialisa (HD) di Kabupaten Sleman

1. RS Akademik UGM: 43 Mesin
2. RSUP Dr. Sardjito: 33 Mesin
3. RS Umum PKU Muhammadiyah Gamping: 32 Mesin
4. RSUD Sleman: 31 Mesin
5. RS Umum Puri Husada: 17 Mesin
6. RSUD Prambanan: 11 Mesin
7. RS Umum Condong Catur: 10 Mesin
8. RS Umum Sakina Idaman: 8 Mesin
9. RS JIH: 8 Mesin
10. RS Umum Queen Latifa: 6 Mesin
11. RS Mitra Paramedika: 5 Mesin (Eksisting)
12. RS UAD: 5 Mesin (Eksisting)
13. RS Khusus Bedah An-Nur: 4 Mesin
14. RS Umum Hermina Yogya: 3 Mesin
15. RS Islam Yayasan PDHI: 2 Mesin
Sumber: Data RS Online & Dinkes Sleman 2025. (bersambung)

Tombol Google News

Tags:

layanan kesehatan Cuci Darah RSUD Sleman RSUD Prambanan Dinkes Sleman jkn Kis BPJS Kesehatan APBD Sleman dr Cahya Purnama Infrastruktur Medis Gagal Ginjal Kronis Info Sleman Kesehatan Publik Pembiayaan Kesehatan Pemkab Sleman gagal ginjal