KETIK, JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih memasuki minggu keenam perang. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (5/4/2026) mengonfirmasi keberhasilan operasi penyelamatan anggota kru jet tempur F-15E Strike Eagle yang jatuh di wilayah Iran.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai salah satu pencarian dan penyelamatan (SAR) paling berani dalam sejarah militer AS. "Kami berhasil menemukannya! Dia sekarang selamat dan sehat," tulis Trump. Pilot yang berpangkat Kolonel tersebut sempat bersembunyi di kawasan pegunungan Iran setelah pesawatnya ditembak jatuh pada Jumat (3/4/2026) dilansir CBS News.
Bantahan Teheran
Namun, klaim kemenangan Washington dibantah keras oleh Teheran. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia, Kolonel Ebrahim Zolfagari, menyatakan bahwa militer Iran justru berhasil menggagalkan misi penyelamatan tersebut.
Iran mengklaim telah menembak jatuh sejumlah pesawat AS yang masuk, termasuk dua helikopter Black Hawk dan satu pesawat angkut C-130 di wilayah Isfahan Selatan.
Di sisi lain, AS mengakui adanya insiden tambahan di mana jet A-10 Warthog jatuh di Kuwait, meski pilotnya berhasil selamat.
Eskalasi Serangan dan Ultimatum
Konflik yang dipicu serangan gabungan AS-Israel sejak 28 Februari lalu ini kian meluas. Israel juga dilaporkan telah menghantam kompleks petrokimia di Mahshahr dan area dekat fasilitas nuklir Bushehr. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan akan terus menggempur infrastruktur energi Iran guna memutus pendanaan perang.
Menanggapi hal itu, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone ke instalasi radar dan markas militer AS di Uni Emirat Arab serta Kuwait. Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari militer Iran memperingatkan akan membuka "pintu neraka" bagi infrastruktur AS jika Teheran terus diserang.
Upaya Diplomasi
Di tengah ancaman blokade Selat Hormuz oleh Iran dan ultimatum 48 jam dari Trump, upaya diplomasi mulai muncul. Pakistan, Turki, dan Mesir tengah berupaya memediasi kedua belah pihak untuk duduk di meja perundingan di Islamabad guna meredam gejolak harga energi dan krisis keamanan global. (*)
