KETIK, SURABAYA – Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda dalam kehidupan umat Muslim. Aktivitas siang hari terasa lebih berat karena harus menahan lapar dan haus. Tak sedikit orang yang memilih menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang hari agar puasa terasa lebih ringan.
Lantas, apakah kebiasaan tersebut benar-benar dapat disebut sebagai bagian dari ibadah, atau justru bentuk kemalasan yang dibungkus alasan agama?
Pada hakikatnya, tidur memang tidak membatalkan puasa. Selama seseorang telah berniat dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah ‘apakah setiap tidur otomatis bernilai ibadah?’
Kutipan hadis tentang “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah,” yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi. Para ulama hadis menilai riwayat ini berderajat lemah (dha’if). Meski demikian, sebagian ulama menjelaskan bahwa maknanya dapat dipahami dalam konteks tertentu, bukan untuk membenarkan kemalasan atau meninggalkan amal saleh.
Pendakwah Habib Husein Ja'far Al Hadar dalam program Ruang Ngaji di kanal YouTube Metro TV pada 23 Maret 2023 menjelaskan bahwa hadis tersebut tidak boleh dimaknai secara keliru.
Ia menegaskan bahwa bukan berarti seseorang lalu memilih tidur terus-menerus dengan alasan ibadah. “Seharusnya kalau tidur saja ibadah, maka membaca Al-Qur’an, menolong orang lain, dan amal-amal lainnya tentu lebih utama,” ujarnya.
Ia juga mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang menjelaskan bahwa hikmah puasa justru dirasakan ketika seseorang terjaga dan merasakan lapar serta haus. Dari rasa itulah tumbuh kesabaran dan keimanan. Jika sepanjang hari dihabiskan untuk tidur, maka rasa lapar dan haus puasa bisa saja tidak dirasakan secara maksimal.
Sementara itu, Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa tidur bisa bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menjaga diri dari maksiat atau untuk mempersiapkan diri melakukan kebaikan, seperti beristirahat agar kuat beribadah di malam hari. Artinya, tidur yang dimaksud bukanlah tidur berlebihan tanpa tujuan, melainkan istirahat yang proporsional dan disertai niat yang baik.
Dalam Islam, setiap amal sangat bergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Karena itu, tidur pun dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk kebaikan. Namun, jika seseorang hanya menghabiskan waktu dengan tidur tanpa upaya meningkatkan kualitas ibadah, maka makna “tidur adalah ibadah” tidak sesuai dengan semangat ajaran tersebut.
Selain dari sisi spiritual, kebiasaan tidur berlebihan selama Ramadan juga perlu dilihat dari aspek kesehatan. Dokter Nadia Alaydrus dalam unggahan TikToknya pada 12 Maret 2024 menjelaskan bahwa meski tidur lebih baik daripada melakukan hal negatif, durasinya tetap harus terkontrol.
Orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar 6–8 jam per hari. Tidur terlalu lama justru dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes, obesitas, hingga penurunan fungsi kognitif. Karena itu, jika ingin beristirahat di siang hari saat Ramadan, ia menyarankan cukup tidur singkat sekitar 20–30 menit dan tidak langsung berbaring setelah sahur.
Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar tentang sah atau tidaknya puasa, melainkan tentang bagaimana memaksimalkan kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan. Tidur secukupnya diperbolehkan, tetapi menjadikannya sebagai alasan untuk menghindari rasa lapar dan haus saat puasa tentu perlu direnungkan kembali. (*)
