KETIK, SURABAYA – style="margin-left:28px; margin-right:27px">Ramadan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah, melainkan momentum spiritual yang mengingatkan manusia tentang tujuan utama hidupnya. Sebagai muslim, kita meyakini bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
Setelahnya ada fase kematian, alam kubur, hari perhitungan di mahsyar, hingga kehidupan abadi di akhirat, surga yang didambakan atau neraka yang menjadi peringatan bagi mereka yang menyimpang dari ketentuan Allah.
Al-Qur’an menegaskan tujuan penciptaan manusia dalam firman-Nya, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menjadi contoh bahwa seluruh aktivitas dunia seharusnya bernilai ibadah.
Namun realitasnya, manusia sering terjebak pada orientasi materi. Kesibukan mengejar dunia kerap membuat seseorang lupa bahwa kehidupan ini hanyalah tempat persinggahan. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan, kebaikan untuk dunia sekaligus akhirat, sebagaimana doa yang sering kita panjatkan.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).
Dikutip dari kanal YouTube Adi Hidayat Official yang berjudul “Rahasia Menyambut Ramadan Sesuai Al-Qur’an & Sunnah” dalam tausiyah yang disampaikan pada tanggal 21 Feb 2025 di Jakarta, Ustadz Adi Hidayat (UAH) membedah rahasia besar di balik persiapan bulan mulia ini.
UAH mengawali pembahasannya dengan sebuah refleksi mendalam mengenai hakikat kehidupan. Sebagai Muslim, kita meyakini bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat.
"Allah menginginkan saat kita lahir dalam keadaan bersih, maka pulang pun harus dalam keadaan bersih," ungkap Ustadz Adi Hidayat.
Di sinilah Ramadan hadir sebagai 'pembersih' akbar. Jika shalat lima waktu menggugurkan dosa harian, maka Ramadan hadir untuk menggugurkan akumulasi dosa selama sebelas bulan terakhir.
Ia menekankan bahwa bulan Ramadan adalah satu-satunya bulan yang siang dan malamnya dijanjikan ampunan menyeluruh. Hal ini diperkuat hadis Nabi yang menyebutkan bahwa siapa pun yang berpuasa dengan iman dan mengharap ridha Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Tahukah Anda mengapa perintah puasa dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 turun di bulan Sya'ban? Menurut UAH, ini adalah isyarat ilahi agar umat Islam melakukan "pemanasan" mental dan fisik.
Menyambut Ramadan sesuai sunnah berarti mulai menata niat sejak Sya'ban. Persiapan ini penting agar saat memasuki tanggal 1 Ramadan, ruh dan raga kita sudah terbiasa dengan ritme ibadah, bukan baru beradaptasi di pertengahan bulan.
Poin rahasia selanjutnya adalah mengenai manajemen anggota tubuh. Ustadz Adi Hidayat menekankan agar setiap Muslim mulai mengevaluasi diri, apakah lisan, mata, telinga, hingga kaki kita sudah digunakan untuk hal-hal yang bersifat hasanah (kebaikan)?
"Jangan sampai kita hanya mengoleksi materi dunia dan menghitung-hitungnya, sementara bekal untuk 'ruang tunggu' di alam kubur terlupakan," jelasnya.
Ramadan adalah waktu terbaik untuk memaksa seluruh anggota tubuh hanya beraktivitas yang bernilai ibadah sesuai QS. Adz-Dzariyat ayat 56.
Namun, di balik keutamaan yang besar, ada sebuah peringatan. Dikutip dari channel YouTube Adi Hidayat Official tanggal 21 Feb 2025, Ustadz menyebutkan sebuah hadis,
"Jibril berdoa dan Nabi mengaminkannya, bahwa sangat rugi dan celaka bagi seseorang yang sempat bertemu Ramadan tetapi tidak mendapat pengampunan Allah karena tidak serius menjalaninya," ucapnya.
Peringatan ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak sekadar menjadikan Ramadan sebagai rutinitas menahan lapar dan haus belaka.
Tujuan akhir dari persiapan yang matang ini adalah tercapainya derajat Taqwa. UAH menutup dengan pesan bahwa Ramadan tahun ini bisa jadi adalah Ramadan terakhir bagi kita. Oleh karena itu, persiapan yang matang sesuai Al-Qur'an dan Sunnah adalah harga mati.
Mari kita jadikan di bulan Ramadan ini sebagai ajang untuk memperbaiki diri, memohon ampunan, dan menata hati demi mendapatkan pahala di bulan suci ini. (*)
