Menjaga Lisan di Bulan Ramadan, Pesan Mamah Dedeh Soal Bahaya Ghibah

22 Februari 2026 04:04 22 Feb 2026 04:04

Thumbnail Menjaga Lisan di Bulan Ramadan, Pesan Mamah Dedeh Soal Bahaya Ghibah

Ilustrasi perbuatan ghibah (Desain: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Bulan Ramadan menjadi momen spesial bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah. Di tengah semangat menjalankan puasa, masih banyak yang luput menjaga satu hal penting yaitu lisan. Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain ternyata bisa menjadi “celah” yang bisa menghapus pahala puasa tanpa disadari.

Pernah disampaikan Mamah Dedeh di Kanal Ustadz pada 29 Maret 2024. Menjaga lisan merupakan bagian tak terpisahkan dari ibadah puasa. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan yang menyakiti,” ujarnya.

Secara syar’i, ghibah didefinisikan sebagai menyebutkan sesuatu tentang saudara seiman yang tidak disukai, baik terkait fisik, perilaku, maupun urusan pribadi.

Dalam video tersebut, dijelaskan bahwa jika yang dibicarakan benar, maka itu termasuk ghibah. Tetapi jika informasinya tidak benar, maka dosanya meningkat menjadi fitnah yang jauh lebih berat sanksinya.

Allah SWT telah memberikan peringatan tegas melalui Surah Al-Hujurat ayat 12. Sebagaimana dikutip dalam tayangan Rumah Mamah Dedeh, ayat ini mengumpamakan pelaku ghibah seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Hal ini menggambarkan betapa rendahnya nilai perbuatan tersebut di mata Allah, serta betapa pentingnya menjaga kehormatan sesama Muslim.

Dampak ghibah terhadap puasa pun tidak bisa diabaikan, Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Bukhari bahwa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga, tanpa pahala spiritual. Mamah Dedeh menjelaskan bahwa ghibah termasuk dalam kategori perbuatan yang dapat “membatalkan” pahala puasa, meski secara hukum fikih puasanya tetap sah.

Lantas, bagaimana jika kita berada dalam situasi sosial yang rentan memicu ghibah? Misalnya, saat berkumpul dengan rekan kerja atau keluarga yang kerap membicarakan orang lain. Solusi praktis yang ditawarkan dalam tayangan tersebut adalah menerapkan prinsip “jika tidak ada ucapan yang baik, lebih baik diam.” Mengalihkan topik pembicaraan atau memperbanyak dzikir juga bisa menjadi strategi efektif untuk menjaga lisan.

Selain itu, video Rumah Mamah Dedeh juga menyoroti pentingnya introspeksi diri. Daripada sibuk menilai kekurangan orang lain, umat Muslim diajak untuk fokus memperbaiki diri sendiri. “Kita semua punya aib. Lebih baik sibuk menutupi aib sendiri daripada membuka aib orang lain,” pesan Mamah Dedeh.

Bagi mereka yang terlanjur melakukan ghibah, pintu taubat tetap terbuka lebar. Taubat dari dosa ghibah memiliki tahapan khusus, Pertama hentikan perbuatan ghibah, kedua sesali kesalahan, ketiga meminta maaf kepada pihak yang dirugikan “jika memungkinkan”. Apabila permintaan maaf dikhawatirkan justru menimbulkan masalah baru, maka cukup dengan memperbanyak istighfar dan mendoakan kebaikan untuk orang tersebut.

Ramadan menurut Mamah Dedeh, seharusnya menjadi momentum untuk menahan lisan dan hati. Bulan suci ini bukan sekadar ritual menahan makan dan minum, melainkan pelatihan menyeluruh untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Pada akhirnya, puasa yang mabrur tidak hanya diukur dari kemampuan fisik menahan lapar, tetapi juga dari konsistensi menjaga hati dan lisan. Menghindari ghibah di bulan Ramadan dan seterusnya adalah investasi spiritual yang akan membuahkan ketenangan hati, hubungan sosial yang lebih sehat, serta ridho Allah SWT.(*)

Tombol Google News

Tags:

bahaya ghibah Ramadan Hikmah Ramadan Mamah Dedeh menjaga lisan bulan Ramadan