KETIK, SURABAYA – Banyak orang merasa hidupnya penuh kesibukan setiap hari. Aktivitas berjalan tanpa henti, pekerjaan menumpuk, dan waktu terasa cepat berlalu. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang merasakan kegelisahan dan kekosongan dalam hidup. Kesibukan yang dijalani seolah tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.
Fenomena ini dibahas oleh Ustadz Abdurrahman Zahier dalam sebuah podcast yang diunggah di channel YouTube Suara Berkelas pada 19 Februari 2026. Dalam perbincangan tersebut, ia menyoroti pentingnya keberkahan waktu dalam kehidupan manusia.
Banyak orang yang salah memahami penyebab kegagalan dalam hidup. Masalah yang sering dianggap berasal dari kurangnya waktu atau kesempatan sebenarnya berkaitan dengan hilangnya keberkahan waktu itu sendiri.
“Banyak kegagalan kita hari ini adalah kegagalan karena kita tidak mendapatkan keberkahan waktu, bukan karena tidak punya waktu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Namun hasil yang dicapai bisa sangat berbeda. Ada orang yang mampu menghasilkan banyak karya dan pencapaian dalam waktu singkat, sementara yang lain merasa waktunya habis tanpa hasil yang jelas.
Perbedaan itu menurutnya terletak pada keberkahan waktu. Tanpa keberkahan, seseorang bisa terlihat sangat sibuk tetapi sebenarnya hanya berjalan di tempat.
Dalam podcast tersebut, ia juga menyinggung salah satu tanda zaman yang disampaikan dalam hadis "Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma" (HR. Tirmidzi & Ahmad) yaitu waktu yang terasa semakin cepat. Banyak orang merasa sehari berlalu begitu saja tanpa menyadari ke mana waktu itu digunakan.
“Padahal 24 jam kita sama dengan 24 jam orang-orang hebat di zaman dahulu. Hanya saja mereka memiliki keberkahan waktu yang hari ini sering kali tidak kita miliki,” ujarnya.
Menurutnya, hilangnya keberkahan waktu sering kali berkaitan dengan dosa dan kemaksiatan. Ketika hubungan manusia dengan Allah melemah, keberkahan dalam hidup perlahan akan berkurang. Akibatnya, seseorang mudah merasa lelah, sibuk, tetapi tidak merasakan kepuasan batin.
Selain itu, Ia juga menyoroti kondisi hati manusia. Menurutnya, di dalam hati setiap manusia terdapat ruang kosong yang tidak dapat diisi oleh kenikmatan dunia. Kekayaan, jabatan, maupun berbagai pencapaian materi tidak mampu memberikan ketenangan yang sejati.
“Di dalam hati manusia itu ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh kenikmatan dunia. Satu-satunya yang bisa mengisinya adalah hidayah dan kedekatan kepada Allah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kegelisahan yang banyak dirasakan manusia sebenarnya berawal dari hati. Namun sering kali solusi yang dicari justru berfokus pada kesenangan fisik, seperti hiburan atau pelarian sementara, bukan memperbaiki kondisi hati.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah dan amal kebaikan. Ketika hati terhubung dengan Sang Pencipta, seseorang tidak hanya mendapatkan ketenangan batin, tetapi juga merasakan keberkahan dalam hidup dan waktunya.(*)
