KETIK, JAKARTA – Tradisi mudik Lebaran sudah menjadi bagian yang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Setiap menjelang Hari Raya Idulfitri, jutaan orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan sanak saudara.
Fenomena ini bahkan kerap disebut sebagai salah satu arus perpindahan manusia terbesar di dunia yang terjadi setiap tahun di Indonesia.
Namun di balik kemeriahan tersebut, umat Islam diingatkan agar tidak melupakan tujuan spiritual dari perjalanan pulang kampung itu.
Dalam sebuah kajian yang disampaikan oleh Buya Yahya di kanal YouTube Al Bahjah TV pada Sabtu, 15 Maret 2026, ia menjelaskan bahwa mudik tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tradisi tahunan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.
Menurutnya, tradisi mudik merupakan keunikan masyarakat Indonesia yang sulit ditemukan di negara lain dengan skala yang sama.
“Ada satu kegiatan, tradisi masyarakat, kalau sudah hari raya itu ada istilah mudik. Akan tetapi kita tidak pernah menemukan mudik sedahsyat mudiknya orang Indonesia,” ujarnya dalam kajian tersebut.
Meski demikian, ia mengingatkan agar perjalanan mudik tidak berubah menjadi ajang pamer kesuksesan atau sekadar gengsi di hadapan keluarga di kampung halaman.
“Jangan sampai pulang ke rumah hanya ingin pamer. Seolah-olah sukses di kota, padahal sebenarnya penuh utang. Mudiklah karena Allah, karena ingin bertemu sanak saudara dan menyambung silaturahim,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ibadah selama perjalanan mudik. Menurutnya, umat Islam tetap memiliki kewajiban menjalankan salat meskipun sedang melakukan perjalanan jauh.
Dalam ajaran Islam, kata dia, musafir diberikan keringanan seperti menjamak dan mengqashar salat. Namun hal itu tidak berarti kewajiban salat bisa ditinggalkan.
“Tidak ada alasan untuk meninggalkan salat. Anda bisa melakukan salat di atas kendaraan sekalipun, yang penting jangan sampai Anda meninggalkan salat,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar perjalanan mudik tidak diisi dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti perbuatan maksiat atau perilaku yang dapat merusak nilai ibadah, terutama saat masih berada di bulan Ramadan.
Ia berharap umat Islam mampu menjaga niat, ibadah, serta akhlak selama perjalanan mudik, sehingga momen pulang kampung tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga perjalanan spiritual yang membawa keberkahan bagi diri sendiri dan keluarga.(*)
