KETIK, LEBAK – Direktur PT Lebak Niaga Perseroda, Ilham Akbar, menyampaikan bahwa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Kabupaten Lebak kini telah resmi bertransformasi dari Perusahaan Daerah (PD) menjadi Perseroan Daerah (Perseroda) sejak akhir tahun 2025.
Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai oleh wartawan di ruang kerjanya, Jumat 10 April 2026.
“Kalau terbentuknya, memang dari akhir 2025 kita sudah berubah dari PD menjadi PT. Jadi sekarang namanya PT Lebak Niaga Perseroda,” ujar Ilham.
Ia menjelaskan, perubahan status kelembagaan tersebut turut diikuti dengan pergeseran arah bisnis perusahaan.
Hasil proses beras lalu dilakukan kemasan yang berukuran 25 kg. (Foto: Abdul Kohar/Ketik.com)
Lanjut Ilham, jika sebelumnya bergerak di sektor pertambangan, kini PT Lebak Niaga Perseroda berfokus pada sektor ketahanan pangan dan aneka usaha.
“Pokok bisnis Lebak Niaga sekarang di ketahanan pangan. Sebelumnya kan di sektor pertambangan, sekarang kita beralih ke aneka usaha, salah satunya di sektor pangan,” katanya.
Sebagai langkah konkret, perusahaan telah mengoperasikan mesin Rice Milling Unit (RMU) atau penggilingan padi modern untuk mendukung produksi beras. Mesin tersebut memiliki kapasitas produksi maksimal hingga 40 ton per hari.
“Kalau maksimalnya itu bisa sampai 40 ton beras per hari. Tapi saat ini kita masih di tahap awal, baru sekitar 20 ton per hari. Nanti pelan-pelan kita tingkatkan kapasitasnya,” ungkapnya.
Menurut Ilham, pengadaan mesin RMU tersebut merupakan bentuk dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lebak, termasuk Bupati Lebak, dalam memperkuat sektor ketahanan pangan daerah.
“Ini berkat dukungan dari Pemda Lebak, termasuk Pak Bupati, untuk pengadaan mesin ini. Harapannya bisa berkontribusi terhadap peningkatan PAD dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan unit produksi beras tersebut mampu menyediakan beras berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.
“Harapannya masyarakat bisa mendapatkan beras dengan kualitas bagus tapi harganya lebih murah dari pasaran,” katanya.
Dari sisi pemasaran, saat ini distribusi masih terpusat di gudang produksi. Namun, pihaknya tengah mempersiapkan pembukaan outlet penjualan di wilayah Rangkasbitung.
“Sekarang kita masih di gudang produksi, tapi sedang berproses membuka outlet-outlet, tahap awal di sekitar Rangkasbitung. Ada dua titik yang sedang kita siapkan,” ujarnya.
Ilham menyebutkan, pembukaan outlet tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses beras berkualitas, bahkan dalam jumlah kecil.
“Kita ingin masyarakat bisa membeli per kilo, satu atau dua kilo, di outlet kami dengan harga terjangkau dan kualitas bagus,” imbuhnya.
Terkait harga, ia menjelaskan bahwa beras premium saat ini dijual seharga Rp375 ribu per karung ukuran 25 kilogram. Harga tersebut dinilai lebih rendah dibandingkan harga pasar untuk kualitas serupa.
“Kalau premium kita jual Rp375 ribu per karung. Di pasaran untuk kualitas yang sama bisa sampai Rp390 ribuan,” ungkapnya.
Hasil proses beras bisa dilihat kualitasnya sebelum dilakukan dikemas. (Foto: Abdul Kohar/Ketik.com)
Sementara itu, untuk beras medium dijual dengan harga sekitar Rp340 ribu per karung. Ke depan, pihaknya juga akan menghadirkan berbagai varian beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Nanti akan ada premium kelas 1, 2, 3, dan medium juga ada medium super, medium, sampai medium low. Jadi masyarakat punya banyak pilihan sesuai kemampuan,” jelasnya.
Ia menegaskan, pihaknya juga berkomitmen menyediakan beras dengan harga yang lebih terjangkau hingga kisaran Rp12 ribu per kilogram.
“Kalau ada masyarakat yang hanya mampu beli di kisaran Rp12 ribu per kilo, kita akan siapkan juga,” katanya.
Di akhir, Ilham berharap dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah agar PT Lebak Niaga Perseroda dapat terus berkembang dan memberikan manfaat luas.
“Kami tidak bisa tumbuh tanpa dukungan Pemda dan masyarakat. Harapan kami masyarakat percaya bahwa Lebak Niaga hadir menyediakan beras berkualitas dengan harga terjangkau,” pungkasnya.(*)
