KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu menargetkan sebanyak 600 mahasiswa menjadi penerima program beasiswa pada 2027 dengan alokasi anggaran mencapai Rp8,1 miliar.
Target tersebut menjadi bagian dari penguatan komitmen daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027, program Beasiswa 1.000 Sarjana diproyeksikan terus mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah penerima maupun dukungan anggaran yang disiapkan pemerintah daerah.
Kepala Bapelitbangda Kota Batu, Bangun Yulianto, menjelaskan bahwa program beasiswa ini merupakan salah satu strategi utama dalam mendorong daya saing daerah di masa depan.
Tren peningkatan tersebut terlihat dari penyerapan anggaran yang terus bertambah sejak 2025.
“Program ini merupakan bentuk investasi jangka panjang bagi daerah melalui penguatan SDM. Pada 2025, beasiswa telah diberikan kepada 273 mahasiswa dengan anggaran sekitar Rp1,7 miliar. Untuk 2026, jumlah penerima kami tingkatkan,” ujarnya, Sabtu, 28 Maret 2026.
Pada 2026, program ini ditargetkan menjangkau 400 mahasiswa dengan alokasi anggaran sebesar Rp5,6 miliar. Selanjutnya, pada 2027 jumlah penerima diproyeksikan meningkat menjadi minimal 600 mahasiswa dengan dukungan anggaran mencapai Rp8,1 miliar.
Bangun menilai peningkatan tersebut selaras dengan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Batu yang telah melampaui target, yakni berada di angka 80,35.
Pemkot Batu optimistis peningkatan jumlah sarjana di tingkat keluarga akan berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan yang saat ini berada di kisaran 2,86 persen.
“Meskipun terdapat kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat yang berdampak pada pengurangan dana transfer ke daerah, kami tetap memprioritaskan program-program strategis. Sektor pendidikan menjadi salah satu yang harus diamankan dalam RKPD 2027,” tegasnya.
Selain pendidikan formal, Pemkot Batu juga tetap memberikan perhatian pada sektor pendidikan keagamaan. Hal ini diwujudkan melalui penyaluran insentif kepada 1.911 tenaga pendidikan keagamaan secara berkelanjutan.
Sinergi antara pendidikan formal dan penguatan nilai keagamaan diharapkan mampu membentuk masyarakat yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter serta spiritualitas yang kuat.
“Seluruh masukan dari Musrenbang tingkat desa hingga kecamatan akan kami olah untuk penyusunan RKPD 2027. Fokus kami adalah penguatan masyarakat demi pemerataan pembangunan dan peningkatan daya saing daerah,” pungkasnya.
