KETIK, BATU – Kampung Tempe di Dusun Karangjambe, Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, terus berkembang sebagai pusat kuliner sekaligus eduwisata berbasis potensi lokal.
Keberadaan Omah Tempe tidak hanya memperkenalkan tempe sebagai makanan khas Indonesia yang kaya protein nabati, tetapi juga menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat setempat.
Terletak di wilayah yang dikenal sebagai sentra produksi tempe, Omah Tempe menghadirkan konsep wisata edukatif.
Di tempat ini, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan tempe hingga pengolahannya menjadi berbagai produk makanan kreatif berbahan dasar kedelai.
Kepala Desa Beji, Denny Cahyono, menjelaskan bahwa industri tempe skala mikro dan kecil telah lama menjadi penopang ekonomi warga desa.
Ratusan pembuat tempe tersebar di berbagai dusun, sementara puluhan lainnya mengembangkan produk olahan berbasis tempe.
“Industri tempe di Desa Beji sudah berlangsung secara turun-temurun. Hingga kini ada ratusan pembuat tempe serta puluhan pelaku usaha yang mengolah tempe menjadi berbagai produk makanan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada 2019 Desa Beji memperoleh penghargaan Waranugraha Among Desa sebagai “Empowered Village in Micro, Small and Medium Business”.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Among Tani Foundation bersama Pemerintah Kota Batu dan PusKa-PB Universitas Muhammadiyah Malang.
“Pada tahun yang sama, Omah Tempe di Dusun Karangjambe juga resmi didirikan. Lokasi ini dipilih karena menjadi pusat produksi tempe di desa kami. Lebih dari 80 persen warga di dusun tersebut bekerja sebagai perajin tempe,” jelasnya.
Menurut Denny, Omah Tempe kini berkembang sebagai destinasi eduwisata yang memperkenalkan proses pembuatan tempe hingga pengolahannya menjadi berbagai menu kuliner.
Aktivitas tersebut dinilai mampu menarik minat wisatawan untuk belajar sekaligus menikmati produk lokal.
“Omah Tempe menjadi pusat edukasi bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin mengetahui proses produksi tempe dan berbagai olahannya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung,” paparnya.
Tidak hanya mengembangkan wisata kuliner, Desa Beji juga menghadirkan inovasi budaya berupa batik motif tempe yang menjadi identitas baru desa. Motif tersebut bahkan telah dipatenkan sebagai produk khas daerah.
“Batik motif tempe pertama kali diperkenalkan saat Festival Beji Kampung Tempe pada 2021. Sejak saat itu motif tersebut menjadi ikon baru Desa Beji,” katanya.
Denny menyebut, saat ini terdapat belasan jenis makanan yang dihasilkan dari olahan tempe di desa tersebut.
Produk-produk tersebut terus dikembangkan oleh pelaku UMKM setempat untuk memperluas variasi kuliner berbasis tempe.
Selain memanfaatkan bahan utama kedelai, Pemerintah Desa Beji juga mengembangkan inovasi dari limbah produksi tempe.
Kulit kedelai hasil pencucian, misalnya, dapat diolah kembali menjadi bahan makanan untuk mendukung usaha mikro masyarakat.
“Mulai 2022 kami fokus memanfaatkan limbah tempe agar memiliki nilai tambah. Kulit kedelai dapat diolah menjadi bahan makanan, sedangkan limbah cairnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, jumlah industri rumahan tempe di Desa Beji mencapai sekitar 263 produsen.
Produk tempe yang dihasilkan sebagian besar masih dipasarkan di wilayah Malang Raya dan sekitarnya, seperti Blimbing, Dinoyo, Kebalen, Pujon, Ngantang, Kasembon hingga Kandangan.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi, para produse menghabiskan sekitar 6 hingga 7 ton kedelai setiap hari. Bahan baku tersebut dipasok secara berkala dari wilayah Pandaan.
“Perputaran ekonomi dari industri tempe di Desa Beji rata-rata mencapai sekitar Rp70 juta per hari. Harga kedelai saat ini sekitar Rp10 ribu per kilogram dan pengiriman dilakukan tiga kali dalam seminggu,” jelasnya.
Denny menambahkan, tempe produksi Desa Beji memiliki keunggulan karena dibuat dari kedelai murni tanpa campuran bahan tambahan. Selain tempe kedelai, para perajin juga memproduksi tempe berbahan kacang tanah.
“Tempe dari kacang tanah memiliki keistimewaan karena minyaknya sudah diambil, sehingga dikenal lebih rendah kolesterol,” ujarnya.
Beragam produk turunan tempe juga terus dikembangkan, mulai dari pia tempe, brownies tempe, steak tempe, keripik tempe hingga mie berbahan kulit ari kedelai yang diolah menjadi tepung.
Menurutnya, konsep kampung tempe yang dikembangkan Desa Beji semakin menarik minat wisatawan, terutama saat musim liburan.
Banyak rombongan pelajar maupun kelompok masyarakat yang datang untuk belajar langsung mengenai proses produksi tempe.
“Setiap liburan, kampung tempe ini sering menjadi tujuan kunjungan wisata edukasi. Mulai dari siswa SD, SMP, SMA hingga kelompok PKK dari berbagai daerah seperti Bojonegoro, Gresik, Tuban dan Lamongan datang untuk melihat proses pembuatan tempe,” tuturnya. (*)
