Transportasi Jadi Tantangan Lansia Diaspora, Terbiasa Naik MRT dan Jalan Kaki

24 Maret 2026 09:00 24 Mar 2026 09:00

Thumbnail Transportasi Jadi Tantangan Lansia Diaspora, Terbiasa Naik MRT dan Jalan Kaki

Para lansia di Atedia Senior Center, Surabaya melakukan aktivitas bersama, seperti merajut hingga gym. (Foto: Fitra/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Mendengar kata lansia, pertama kali yang terbayangkan adalah tubuh yang sudah lemah, berambut putih dan bahkan sudah pikun. Namun tidak demikian dengan lansia diaspora, mereka justru mengalami "culture shock" dengan budaya, khususnya transportasi di Surabaya.

Hal ini berdasarkan cerita dari Manager Atedia Senior Center, David Nahason. Atedia merupakan panti jompo premium yang terletak di Royal Residence, Surabaya.

David menceritakan, beberapa lansia yang berasal dari luar negeri datang ke Surabaya untuk bernostalgia dengan tanah kelahirannya. Namun, ketika berada di Surabaya mereka merasa culture shock.

Ia menjelaskan, para lansia itu lahir di Mojokerto, namun sudah lama berganti warga negara. Namun karena rindu kampung halaman, alhasil lansia itu pulang dan singgah di Atedia.

"Mereka dari Hongkong, Taiwan, dan Kanada. Menginap di sini 10 hari. Terus mereka culture shock dengan transportasi di Surabaya. Kalau di sana ada MRT dan terbiasa dengan jalan kaki," jelasnya.

David mencoba menjelaskan kepada lansia tersebut, jika ingin keluar atau berpergian, biasanya menggunakan transportasi online. Tapi, para lansia itu mengatakan tidak mau karena seperti naik taksi.

Lanjutnya, menurut para lansia tersebut, dengan tetap berjalan kaki membuat otot-otot pada kakinya kuat. Sehingga terhindar dari sejumlah penyakit tua, seperti pikun.

Kendati sempat culture shock, para lansia diaspora itu mengaku senang mengikuti sejumlah aktivitas, seperti gym, berbincang dengan sesama lansia hingga merajut. Kegiatan-kegiatan ini sangat disukai karena dapat merekatkan komunikasi antar lansia. (*)

Tombol Google News

Tags:

lansia Panti jompo Atedia Senior Center transportasi Surabaya