KETIK, BLITAR – Sabtu malam 30 Agustus 2025, Blitar berubah menjadi kota yang asing bagi warganya sendiri. Jalan-jalan yang biasanya tenang mendadak dipenuhi raungan motor, teriakan histeris, dan api yang berkobar dari pos-pos polisi yang terbakar. Dari pukul 22.00 WIB hingga menjelang subuh, Kota Blitar seolah berada di bawah serangan militer: ribuan orang datang, bukan untuk berdialog, tetapi untuk menghancurkan.
Sejak awal malam, suara knalpot bising sudah terdengar memecah kesunyian. Rombongan besar beriringan, membawa bendera merah putih. Sekilas terlihat seperti aksi demonstrasi, tapi tidak ada spanduk tuntutan, tidak ada orasi, tidak ada pesan politik yang jelas.
Yang ada hanyalah deru motor, botol berisi bensin, dan batu yang digenggam erat. “Saya kira awalnya konvoi biasa, tapi tiba-tiba mereka merusak apa saja yang dilewati,” tutur Sutrisno (46), pedagang kaki lima yang lapaknya hancur diterjang massa.
Puncak serangan terjadi di Mapolres Blitar Kota. Ratusan orang bersenjata tajam, batu, hingga senapan angin merangsek mendekat. Dari kejauhan, cahaya api molotov memantul di dinding bangunan.
“Suasana benar-benar mencekam. Bom molotov dilemparkan, batu beterbangan, suara motor meraung-raung. Rasanya bukan di Blitar, tapi di medan perang,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Polisi yang berjaga di dalam markas dipaksa bertahan di bawah gempuran. Kapolres Blitar Kota, AKBP Titus Yudho Uly, berada di garis depan memimpin langsung pasukannya.
“Bertahan! Jangan mundur!” teriaknya, ketika lemparan batu terus menghantam kaca gedung dan suara ledakan kecil terdengar di halaman.
Water canon dikerahkan, namun massa tidak gentar. Gas air mata ditembakkan berkali-kali, tapi justru dibalas dengan lontaran molotov. Bentrokan berlangsung hingga pukul 03.30 WIB.
Beberapa polisi terkapar karena bacokan dan hantaman batu. Di sisi lain, massa juga bergelimpangan terkena peluru karet dan gas air mata. Jalan raya dipenuhi batu, botol pecah, dan motor-motor ditinggalkan pemiliknya.
Pada akhirnya, ratusan orang berhasil ditangkap. Mereka yang luka dibawa ke rumah sakit dengan tangan terborgol.
Investigasi awal menunjukkan bahwa massa bukan hanya warga Blitar. Ada yang berasal dari Yogyakarta, Grobogan, Tuban, hingga Kediri.
“Mereka datang membawa bendera merah putih, tapi tidak ada aspirasi jelas. Faktanya, mereka hanya merusak dan menyerang,” kata Kapolres Titus.
Polisi menduga serangan ini berkaitan dengan kelompok yang sebelumnya membakar gedung DPRD dan kantor Bupati di Kediri.
Kapolres menegaskan bahwa aksi ini bukanlah demonstrasi.
“Demo itu menyampaikan aspirasi dan ada aturan. Tapi ini jelas bukan demo. Ini anarki, penjarahan, perusakan. Tidak ada ruang bagi pengacau di Blitar,” ujarnya tegas.
Mereka yang tertangkap dijerat pasal 351, 170, dan 406 KUHP. “Semua akan diproses hukum, tidak ada toleransi,” tambahnya.
Hingga Minggu pagi, suasana mulai tenang. Namun, bau gas air mata masih tercium di udara, dan asap sisa pembakaran masih mengepul di beberapa titik.
Warga seperti Sutrisno mengaku masih trauma. “Saya tidak berani buka lapak dulu. Takut kalau mereka balik lagi,” ucapnya lirih.
Kota Blitar memang selamat dari malam panjang itu. Polisi berhasil bertahan, massa berhasil dipukul mundur. Tapi luka yang ditinggalkan baik pada aparat, warga, maupun kota masih membekas.
Kini yang tersisa adalah pertanyaan: siapa dalang di balik kerusuhan ini, dan mengapa Blitar menjadi target? (*)