KETIK, SURABAYA – Anggota MPR RI sekaligus anggota DPD RI daerah pemilihan Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menilai pemahaman generasi muda terhadap Pancasila kian melemah. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi sinyal serius bagi masa depan ideologi bangsa.
Hal itu disampaikan LaNyalla saat Sosialisasi Empat Pilar MPR bertema “Pancasila Sebagai Navigasi Generasi Muda”yang digelar di Surabaya, Selasa 10 Februari 2026.
LaNyalla menyoroti fenomena yang belakangan marak di media sosial, salah satunya tayangan wawancara acak dengan siswa sekolah yang tidak mampu menyebutkan sila-sila Pancasila secara lengkap dan berurutan. “Yang membuat miris adalah ada beberapa siswa yang tidak hafal Pancasila,” ujarnya.
Kondisi tersebut diperkuat hasil survei Setara Institute pada Mei 2023 terhadap siswa SMA di lima kota besar di Indonesia. Survei itu menunjukkan sebanyak 83,3 persen responden menganggap Pancasila bukan ideologi permanen dan bisa diganti.
Menurut Ketua DPD RI periode 2019–2024 itu, temuan tersebut menandakan bahwa sebagian generasi muda tidak lagi memandang Pancasila sebagai sesuatu yang sakral. “Artinya, generasi muda mungkin tidak menganggap Pancasila sebagai karya final para pendiri bangsa, melainkan kesepakatan yang harus terus dibuktikan manfaatnya,” kata LaNyalla.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi persepsi tersebut. Salah satunya adalah kesenjangan antara nilai-nilai Pancasila dengan realitas yang dirasakan generasi muda. “Sila kelima bicara keadilan, tapi yang mereka lihat justru korupsi dan ketimpangan ekonomi,” ujarnya.
Faktor lain adalah metode penyampaian Pancasila yang dinilai kurang relevan. Pendekatan yang terlalu teoritis dan formal membuat Pancasila terasa jauh dari persoalan nyata yang dihadapi anak muda, seperti tantangan mencari pekerjaan dan membangun masa depan.
Selain itu, paparan ideologi global melalui media sosial juga turut membentuk cara pandang generasi muda. “Mereka terpapar liberalisme, hedonisme, hingga paham keagamaan ekstrem yang sering menawarkan solusi instan,” kata LaNyalla.
Ia menegaskan, melemahnya pemahaman terhadap Pancasila merupakan peringatan serius bagi bangsa. “Fenomena generasi muda yang tidak memahami, bahkan tidak hafal Pancasila, adalah alarm bagi bangsa,” tegasnya.
LaNyalla mengibaratkan Pancasila sebagai navigasi kehidupan berbangsa. “Dalam bahasa gaulnya, Pancasila itu Google Map untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Menurutnya, agama merupakan tuntunan universal, sedangkan Pancasila adalah panduan hidup berbangsa dan bernegara.
Lebih lanjut, LaNyalla menjabarkan implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari generasi muda, mulai dari integritas dalam bekerja, empati dan adab di ruang digital, kolaborasi, keterbukaan berdiskusi, hingga etos kerja.
“Generasi muda tidak harus menjadi politisi untuk mengamalkan Pancasila. Cukup menjadi pelajar dan mahasiswa yang jujur, berprestasi tanpa menjatuhkan orang lain, serta pengguna media sosial yang berakal sehat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya berpikir kritis dalam menyikapi informasi di media sosial yang belum tentu benar dan berpotensi menyesatkan.
Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Jenderal DPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, M. Diah Agus Muslim. Menurutnya, media sosial kini menjadi referensi utama yang mudah diakses generasi muda, namun sering kali dikonsumsi tanpa proses verifikasi.
“Akibatnya, batas antara yang benar dan salah menjadi kabur. Semuanya seolah abu-abu,” ujarnya.
Ia menilai tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dan kembali menjadikan Pancasila sebagai navigasi kehidupan bangsa agar tidak mudah terpengaruh arus informasi yang menyesatkan.(*)
