Seminar Jatim Talk 2026

Lanjutkan Pertumbuhan Ekonomi Jatim, Gubernur Khofifah Ungkap Berbagai Hal Strategis Hadapi Dinamika Global

3 April 2026 16:55 3 Apr 2026 16:55

Thumbnail Lanjutkan Pertumbuhan Ekonomi Jatim, Gubernur Khofifah Ungkap Berbagai Hal Strategis Hadapi Dinamika Global

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (tengah) berfoto bersama usai menjadi keynote speaker pada Seminar Jatim Talk yang digelar Bank Indonesia (BI) Wilayah Jawa Timur bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya pada Rabu, 1 April 2026. (Foto: Biro Adpim Setdaprov Jatim)

KETIK, SURABAYA – Dinamika geopolitik global yang semakin meningkat, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah membuat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga dan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi setempat.

Terlebih, kinerja ekonomi Jawa Timur saat ini tetap solid dengan pertumbuhan sebesar 5,33 persen (yoy) pada tahun 2025 sehingga menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ke depan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada.

Orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut memaparkannya saat menjadi keynote speaker pada seminar Jatim Talk yang digelar Bank Indonesia (BI) Wilayah Jawa Timur bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya pada Rabu, 1 April 2026.

Dalam siaran pers diterima di Surabaya pada Jumat, 3 April 2026, Khofifah menegaskan ketahanan ekonomi Jatim harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor sekaligus beradaptasi untuk menghadapi tantangan serta menangkap peluang di tengah situasi global saat ini.

Khofifah juga menekankan pentingnya peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Peran ini, kata dia, diwujudkan melalui penguatan kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah, percepatan hilirisasi komoditas strategis serta penciptaan iklim investasi kondusif guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, mantan menteri sosial itu menyebut Jawa Timur juga memegang peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan. "Upaya ini didukung melalui hilirisasi lanjutan dari bahan baku olahan, penguatan distribusi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia," ujarnya.

Lebih lanjut, Khofifah menekankan bahwa pangan menjadi salah satu kunci menghadapi situasi global yang tidak menentu. Jawa Timur saat ini menjadi provinsi dengan ketahanan pangan terbaik, dan menyuplai berbagai bahan pokok di berbagai wilayah di Indonesia bahkan pasar ekspor.

"Kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah tentu harus terus diperkuat. Kemudian percepatan hilirisasi komoditas strategis dan penciptaan iklim investasi kondusif itu juga sangat penting," tuturnya.

"Dan yang utama adalah Jawa Timur harus terus melakukan penguatan di sektor pangan. Kuncinya lahan di sektor pangan kita pastikan memadai, kemudian penguatan distribusi serta penguatan sumber daya manusia," tambah dia.

Sementara itu, Gubernur Khofifah berharap forum Jatim Talk ini bisa menjadi titik temu antar pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi dalam merespons dinamika ekonomi global dan dampak konflik geopolitik.

Pada kesempatan sama, Bank Indonesia Jawa Timur turut menyerahkan buku LPP kepada Gubernur Jatim, memuat sejumlah rekomendasi kebijakan utama atas hasil kajian berbasis riset yang disusun melalui karya tulis dalam rangkaian East Java Economic Forum (EJAVEC).

Rekomendasi dimulai pada pembangunan dan integrasi distribusi barang. Kemudian percepatan investasi untuk mendukung hilirisasi industri, termasuk komoditas pertanian unggulan.

Lalu, penguatan ketahanan pangan dan agribisnis dalam pengendalian inflasi, pengembangan sektor pariwisata, ekonomi syariah, UMKM serta optimalisasi kredit produktif.

Berikutnya, optimalisasi pendapatan asli daerah pasca-opsen, percepatan dan perluasan digitalisasi fiskal serta sistem pembayaran, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja dan kesejahteraan pedesaan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Gubernur Jatim Gubernur Khofifah Gubernur Khofifah jatim jatim talk Ekonomi Jatim Bank Indonesia isei