KETIK, SURABAYA – Eksistensi koran Radar Surabaya di tengah gempuran era digitalisasi yang serba cepat merupakan tantangan besar yang memerlukan strategi adaptif serta visi kuat dari seluruh jajaran manajemen. "Kunci utama terletak pada kolaborasi dan inovasi yang menjadi harga mati dalam industri media modern," ujar Direktur Radar Surabaya, Lilik Widyantoro di sela ulang tahun (ultah) Radar Surabaya ke-25, Radar Sidoarjo ke-17, dan Radar Gresik ke-14.
Acara tersebut dikemas dalam Halal Bihalal Open House di Kantor Radar Surabaya Jl Kembang Jepun No. 167-169 Surabaya, Selasa, 31 Maret 2026.
Lilik mengungkapkan salah satu prinsip yang diterapkan adalah kewajiban bagi setiap elemen perusahaan untuk memiliki semangat pemasaran dalam menjalankan peran masing-masing.
"Contoh, divisi redaksi tidak hanya dituntut memproduksi berita berkualitas, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap potensi konten yang dapat menarik minat mitra iklan atau sponsor," jelas Aumnus Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya itu.
Pendekatan ini, kata Lilik, bertujuan menciptakan kolaborasi internal yang harmonis guna mendukung keberlangsungan bisnis perusahaan secara menyeluruh tanpa mengabaikan integritas jurnalistik.
Radar Surabaya menyadari, ketergantungan pada pendapatan iklan konvensional saja tidak mencukupi untuk menghadapi dinamika pasar. Oleh karena itu, langkah kreasi melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan atau event menjadi pilar pendapatan baru yang sangat krusial.
"Melalui berbagai acara tersebut, Radar Surabaya tidak hanya mendapatkan dukungan finansial, tetapi juga berhasil membangun hubungan emosional dan kepercayaan langsung dengan konsumen. Ini sebagai langkah efektif memperkuat kesadaran merek di mata publik," ujar pria asal Kediri itu.
Dari kiri; Direktur Jawa Pos Nurwakhid, Direktur Radar Surabaya Lilik Widyantoro, Gubernur Khofifah, Anggota DPD RI Lia Istifhama dan Kadis Kominfo Jatim Sherlita Ratna Agustin. (Foto: Nadifah Meidina/Ketik.com)
Mengenai visi masa depan, Lilik menegaskan komitmen Radar Surabaya untuk menjadi mitra strategis bagi instansi pemerintah, sektor swasta, maupun organisasi kemasyarakatan.
Ia menekankan pentingnya membangun simbiosis mutualisme yang sehat, di mana media hadir bukan untuk menghakimi secara sepihak, melainkan sebagai mitra pembangunan.
"Meskipun begitu, Radar Surabaya tetap menjunjung nilai kritis berbasis fakta. Selain itu berupaya keras menjaga kualitas konten agar tetap objektif bagi mitra dan pembaca setianya," katanya soal koran yang sudah berusia 25 tahun itu.
Di tengah maraknya persebaran berita bohong atau hoaks di media sosial, kata Lilik, Radar Surabaya tetap teguh mempertahankan eksistensi edisi cetaknya. Pola penyuntingan yang dilakukan secara berlapis pada media cetak dianggap sebagai keunggulan kompetitif yang menjamin akurasi informasi sebelum sampai ke tangan publik.
"Dengan semboyan 'Semangat Maju Terus, Pantang Menyerah' media ini bertekad terus berinovasi tanpa meninggalkan kualitas jurnalistik yang menjadi ruh utamanya dalam melayani masyarakat," ulas pria asal Kediri itu.
Acara ultah ini semakin berkesan dengan kehadiran Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Sebagai bentuk rasa syukur, Lilik Widyantoro menyerahkan potongan tumpeng kepada Gubernur Khofifah dengan didampingi oleh Direktur Jawa Pos Nurwakhid serta anggota DPD RI Lia Istifhama. (*)
