Kisah Pak Guru Hendra, Penyintas Konflik Aceh yang Jadi 'Ayah' bagi Ratusan Scooterist

26 Januari 2026 22:27 26 Jan 2026 22:27

Thumbnail Kisah Pak Guru Hendra, Penyintas Konflik Aceh yang Jadi 'Ayah' bagi Ratusan Scooterist

Hendrasyah Putra di lokasi bencana bersama iguana peliharaannya. (Foto: Muhsin/Ketik.com)

KETIK, ACEH TAMIANG – Bekerja bertahun-tahun tanpa mengambil gaji mungkin terdengar mustahil di era dompet digital hari ini. Namun bagi Hendrasyah Putra, membiarkan haknya mengendap di administrasi negara adalah satu-satunya cara agar ia tetap bisa bernapas di tengah desing peluru perbatasan Aceh Timur dua dekade silam.

​Kini, pria berusia 55 tahun yang akrab disapa "Pak Guru" itu tak lagi berada di garis depan konflik. Di tengah kesibukan relawan banjir Sumatera Utara yang  masih membantu melakukan aktivitas recovery hingga ke pedalaman Aceh hari ini, kediaman Hendra di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, beralih fungsi menjadi jantung pergerakan. Selama hampir dua bulan terakhir, rumahnya menjadi basecamp sekaligus rumah singgah bagi puluhan scooterist yang datang untuk misi kemanusiaan. 

​Warisan Paman dan Filosofi Satu Aspal

​Bagi komunitas Vespa di Aceh Tamiang, Hendra adalah jangkar dan orang tua asuh. Meski kesehariannya bertugas sebagai Bendahara Gaji di SMPN 2 Kualasimpang—sebuah posisi staf administrasi yang ia rintis dari Golongan 1C hingga kini III/b—panggilan "Pak Guru" tetap melekat padanya sebagai bentuk penghormatan.

​Ketertarikan Pak Guru pada dunia Vespa lahir melalui pengamatan sederhana tentang arti solidaritas. Kebetulan dulu ada penggiat Scooterist yang kontrak tepat disebelah rumah Pak Guru. Dari rumah itulah ia mengetahui betapa kentalnya rasa persaudaraan para anggota komunitas Scooter yang tak dibatasi ikatan darah atau sekat hubungan keluarga.

Foto Pak Guru Hendrasyah Putra bersama jurnalis Ketik.com dan Scooterist di rumah Pak Guru. (Foto: Muhsin/Ketik.com)Pak Guru Hendrasyah Putra bersama jurnalis Ketik.com dan Scooterist di rumah Pak Guru. (Foto: Muhsin/Ketik.com)

Hal itulah yang membuatnya bergabung dalam komunitas dan membawanya setia pada satu tunggangan: Vespa Sprint tahun 1977, sebuah warisan tak ternilai dari sang Paman. Ada wasiat yang ia pegang teguh dari sang Paman hingga kini: "Apapun yang terjadi, Vespa ini tak boleh dijual."

​Ketangguhan Pak Guru saat ini berakar dari masa lalunya yang ekstrem. Saat pertama kali diangkat sebagai PNS, ia ditugaskan di Dusun Kayee Uno, Desa Madat, Kecamatan Madat tepatnya di SMP 1 Madat, wilayah pedalaman Aceh Timur yang kala itu menjadi basis kuat Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Di tengah eskalasi konflik, Pak Guru adalah satu dari sedikit orang yang memilih bertahan di saat guru-guru lain menolak penempatan dilokasi tersebut demi keselamatan.

​Kondisi logistik masa itu jauh dari bayangan modernitas. Tanpa mesin ATM, sinyal telepon, apalagi teknologi QRIS, satu-satunya cara mengambil gaji adalah menempuh perjalanan berbahaya ke Kota Langsa. Namun, perjalanan keluar masuk desa di wilayah konflik berarti bertaruh nyawa.

​"Mengambil gaji bisa dicurigai oleh kedua belah pihak yang bertikai," kenang Pak Guru. Akibatnya, gajinya sebesar Rp125.000 per bulan "membeku" dan tersimpan sebagai tabungan selama bertahun-tahun karena tak bisa ia ambil.

Untuk menyambung hidup, ia bertahan dengan berjualan makanan ringan di kantin sekolah atas izin dan bantuan kepala sekolah. Ia juga menggarap sepetak sawah yang diamanahkan padanya. Nasib baik membawanya pindah ke Aceh Tamiang ketika Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan, barulah saat itu ia bisa menikmati akumulasi "tabungan" dari pengabdian sunyinya di Madat.

Foto Vespa kesayangan Pak Guru Hendra. (Foto: Muhsin/Ketik.com)Vespa kesayangan Pak Guru Hendra. (Foto: Muhsin/Ketik.com)

​Iguana: 'Trauma Healing' di Atas Vespa

​Kini, masa pensiun yang semoga bisa tercapai pada Golongan III/c diisi Pak Guru dengan pengabdian yang lebih berwarna. Ia kerap terlihat melakukan touring ke daerah terisolir atau wilayah terdampak bencana. Namun ada yang unik: ia hampir selalu membawa Iguana peliharaannya.

Reptil yang awalnya hanya pemberian seorang Scooterist itu kini telah berkembang biak dalam berbagai jenis di rumahnya. 

Di lokasi pengungsian atau sekolah rakyat, iguana-iguana ini menjadi daya tarik luar biasa. Kehadiran hewan ini secara tak terduga menjadi sarana trauma healing sederhana, memberikan hiburan dan tawa bagi anak-anak maupun orang dewasa di tengah masa sulit bencana.

​Kisah Pak Guru Hendra adalah potret kontradiksi yang indah. Ia yang dulu terisolasi di pedalaman tanpa akses bank, kini justru menjadi pusat gravitasi bagi komunitas yang sangat mobile dan terkoneksi. Ia membuktikan bahwa pengabdian tak selalu harus di depan kelas; terkadang, pelajaran tentang kemanusiaan paling nyata diberikan di atas jok Vespa tua dan dari ketulusan berbagi ruang bagi mereka yang membutuhkan. Sehat-sehat selalu, Pak Guru. (*)

Tombol Google News

Tags:

pak guru inspiratif Aceh Tamiang scooterist aceh tamiang