KETIK, TULUNGAGUNG – Deru mesin bus yang terparkir rapi di Terminal Gayatri seolah menjadi latar musik bagi perpisahan hangat di penghujung libur Lebaran, Selasa pagi, 24 Maret 2026.
Wakil Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., secara resmi melepas keberangkatan ratusan warga dalam program Bus Arus Balik Gratis 2026.
Program ini menjadi oase bagi para perantau yang hendak kembali mengadu nasib di ibu kota dan sekitarnya. Bukan sekadar rutinitas tahunan, inisiatif Pemerintah Kabupaten Tulungagung ini dirancang untuk memastikan warganya pulang dengan rasa aman, nyaman, dan tenang.
Di sela keriuhan warga yang menata barang bawaan, Wakil Bupati menekankan bahwa keselamatan adalah harga mati. Beliau memastikan bahwa seluruh armada yang digunakan bukan sekadar bus biasa.
"Kami ingin memastikan warga kembali ke perantauan dalam kondisi sehat dan selamat. Semua bus telah melewati ramp check atau uji kelaikan yang ketat, dan para pengemudi pun sudah menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh," tegas Baharudin sebelum melepas rombongan.
Beliau juga menambahkan bahwa program ini adalah langkah nyata pemerintah untuk menekan angka kecelakaan di jalan raya sekaligus meringankan beban ekonomi masyarakat akibat lonjakan harga tiket saat puncak arus balik.
Senyum di Balik Lelah
Antusiasme warga terpancar jelas. Salah satunya adalah Agus, seorang buruh pabrik yang membawa serta istri dan anaknya.
Wajahnya tampak lega saat berhasil naik ke bus.
"Tahun ini cari tiket kereta atau bus reguler seperti berebut nyawa, Mas. Harganya pun melonjak berkali-kali lipat. Alhamdulillah, ada program Pemkab ini. Saya dan keluarga bisa pulang dengan tenang tanpa harus pusing memikirkan biaya," ujar Agus.
Pelepasan yang Penuh Makna
Tepat saat matahari mulai meninggi, Wakil Bupati didampingi jajaran Dinas Perhubungan dan Kapolres yang diwakili oleh Kapolsek Kota mengangkat bendera start. Satu per satu armada bus mulai merayap meninggalkan area terminal.
Suasana haru seketika menyeruak. Lambaian tangan dari balik jendela bus berbalas senyum hangat dari kerabat yang melepas di pinggir jalan.
Ada tawa ceria anak-anak yang duduk di kursi empuk, namun ada pula tatapan rindu yang tertinggal untuk kampung halaman.
