Salah satu program besar PSSI untuk mendongkrak prestasi baik di level Asean, Asia, maupun dunia dilakukan dengan menaturalisasi pemain keturunan. Rata-rata adalah pemain keturunan Eropa.Tak terkecuali dengan gonta-ganti pelatih. Pro kontra pun bermunculan di kalangan pemerhati, termasuk para suporter.
Kalau boleh jujur, kehadiran para pemain keturunan sedikit mengusik para pemain lokal baik bermain di Super League atau yang bermain di mancanegara. Tak hanya di Timnas, slot pemain asing di Liga domestik juga bertambah. Pertanyaannya, bagaimana dengan nasib pemain lokal? Sampai kapan program besar PSSI itu berakhir?
Selain itu, ada beberapa pemain naturalisasi yang juga pindah ke klub yang berkompetisi di Super League. Sebut saja, Ivar Jenner, Rafael Struick, Jordy Amat, Thom Haye, dan Jens Raven. Tidak hanya sekedar alarm bagi para pemain lokal, namun juga menjadi ancaman serius terkait menit bermain. Meski tidak semua pemain keturunan punya banyak menit bermain.
Hal ini tentu menjadi jalan terjal untuk bisa bersaing masuk skuad inti Timnas. Paling fresh adalah dominasi pemain keturunan di skuad Indonesia menghadapi FIFA Series 2026 yang akan digelar di Jakarta. Hanya ada nama, Nadeo Argawinata, Doni Tri Pamungkas, Ramadhan Sananta, Yacob Sayuri, dan Cahya Supriadi.
Terlepas itu adalah kewenangan John Herdman sebagai pelatih kepala yang ditugasi dalam FIFA Series, namun ini juga menjadi sebuah tamparan atas keberhasilan Vietnam lolos semifinal Piala Asia U-23 yang didominasi oleh pemai -pemain lokal.
Celakanya, program naturalisasi mulai dari era kepelatihan Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert belum bisa mempersembahkan trofi. Ini harus menjadi kajian mendalam para elit sepak bola di Tanah Air.
Karena, keberadaan para pemain lokal menjadi bagian dari Timnas semakin tergerus. Mungkin saja publik tidak akan mempersoalkan jika saja ada raihan prestasi.
Tapi kondisi yang ada seperti sekarang ini tentu bisa menjadi kemarahan publik atas kebijakan yang diambil oleh PSSI. Tak sedikit spekulasi liar juga bermunculan atas kualitas para pemain keturunan yang banyak bermain di Liga Eropa.
Kejelasan Program Naturalisasi
Naturalisasi bukanlah sesuatu yang tabu atau haram, namun harus lebih mengedepankan efektifitas dan hasil akhir yang mumpuni. Publik sudah bosan dengan istilah sedang berproses atau istilah lain yang terkesan berlindung atas kegagalan yang ditargetkan.
Parahnya, di tangan pelatih lokal dan pemain lokal Indonesia bisa mengukir prestasi mentereng. Baik di era Indra Sjafri, Fachri Husaini, dan Bima Sakti.
Termasuk Vietnam yang kuga sukses dengan mengoptimalkan pemain lokal berkolaborasi dengan pelatih asing. Sebenarnya, kita sudah diberi contoh sekaligus pelajaran dari Philipina yang paling getol melakukan naturalisasi pemain keturunan. Namun prestasinya tetap saja jeblok. Baik di tingkat yunior ataupun senior.
Nah, PSSI harus punya ketegasan akan kebijakan yang diambil. melihat hasil yang dicapai hingga saat ini. Meskipun masih ada momentum di FIFA Series 2026. Artinya, John Herdman punya tanggung jawab besar. Pendeknya, jika gagal siap-siap untuk dipecat.
Belajar dari PSSI Garuda, Baretti dan Primavera
PSSI pernah punya program PSSI Garuda tahun 1982. Para pemain terbaik di tanah air dikirim ke Brazil. Harapannya bisa mengadopsi gaya permainan pendek satu dua sentuhan. Meskipun program ini tidak berjalan lama, namun nama Indonesia cukup disegani di kawasan Asean dan Asia. Termasuk sukses menembus babak semi-final Asian Games Seoul 1988.
Kemudian, PSSI kembali menelurkan program mercusuar di tahun 1990 an dengan istilah PSSI Primavera dan PSSI Baretti. Para pemain muda Indonesia diikutkan kompetisi kelompok umur di Italia. Eks PSSI Primavera, seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Eko Pujiono, Kurnia Sandi dan Indrianto Nugroho. Keempat pemain tersebut rata-rata aktif menjadi pelatih klub.
Optimalisasi Pembinaan
Salah satu negara paling sukses di Asia dalam pembinaan pemain usia muda adalah Jepang. Bahkan, pemain yang diseleksi untuk masuk Timnas levelnya tipis banget. Paling fenomenal adalah 99 persen skuad Timnas senior Jepang adalah pemain yang merumput di Liga elit Eropa. Tak kalah menarik, Jepang langganan tampil di Piala Dunia di segala kelompok umur.
Rahasianya sederhana, pembina pemain usia dini di Negeri Sakura tersebut berjalan optimal dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Padahal di era 1990 an Jepang sering dikalahkan Timnas Indonesia. Ini sangat menarik untuk dikaji sekaligus menjadi bahan renungan untuk kemajuan sepak bola Indonesia kedepannya.
Ada beberapa pemain Jepang yang merumput di Super League dengan kualitas bagus dan bisa dibilang berimbang jika dibandingkan pemain asing yang sama- sama merumput di liga domestik Indonesia. Padahal, pemain Jepang tersebut tidak termasuk bagian dari skuad timnasnya.
Sebenarnya, Jepang sudah mengingatkan Indonesia agar tidak terlalu sering melakukan naturalisasi kalau ingin sepak bola nya berprestasi. Tentu harus dilakukan dengan memaksimalkan pemain lokal dengan menggunakan metode-metode baru. Salah satunya mau berproses dari hasil buah pembinaan dan kompetensi, semoga.
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
