Diskusi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Hampir setiap pekan ada saja forum yang digelar: kajian isu sosial, bedah buku, dialog publik, hingga diskusi tematik yang dikemas lebih santai. Poster kegiatan tersebar di media sosial, daftar hadir disiapkan, dan dokumentasi menjadi bagian tak terpisahkan dari acara.
Secara tampilan, budaya diskusi di kampus terlihat aktif. Kalender organisasi penuh, tema yang diangkat pun tidak main-main. Demokrasi, krisis lingkungan, literasi politik, hingga peran generasi muda dalam perubahan sosial menjadi topik yang sering diperbincangkan.Namun, di balik ramainya agenda itu, muncul pertanyaan yang mulai sering terdengar: apakah diskusi tersebut benar-benar mendalam, atau hanya sekadar formalitas program kerja?
Beberapa mahasiswa mengaku pernah mengikuti forum diskusi yang terasa “aman”. Materi disampaikan dengan runtut, moderator memandu acara dengan tertib, dan sesi tanya jawab tetap dibuka. Namun, suasana terasa datar. Peserta cenderung pasif. Tidak banyak yang mengangkat tangan. Pertanyaan yang muncul pun lebih bersifat klarifikasi, bukan kritik atau pengembangan argumen.
Dalam sebuah diskusi bertema peran mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik yang diikuti penulis misalnya, peserta hadir hampir memenuhi ruangan. Narasumber berbicara hampir satu jam penuh. Namun ketika sesi diskusi dimulai, hanya dua orang yang bertanya.
Salah satu pertanyaan hanya meminta contoh tambahan, sementara yang lain sekadar menegaskan poin yang sudah dijelaskan. “Rasanya kayak seminar biasa. Kita dengar, catat sedikit, lalu selesai,” ujar seorang mahasiswa yang hadir dalam forum tersebut.
Fenomena seperti ini bukan hal yang asing. Diskusi berjalan lancar secara teknis, tetapi kurang meninggalkan kesan. Tidak ada perdebatan berarti, tidak ada gagasan yang benar-benar diuji. Forum selesai tepat waktu, foto bersama diambil, dan acara dinyatakan sukses.
Di sisi lain, ada pengalaman berbeda yang justru muncul dari forum kecil. Beberapa mahasiswa berkumpul di sekretariat organisasi, tanpa susunan acara formal. Topiknya sederhana: mengapa banyak mahasiswa terlihat apatis terhadap isu politik? Peserta hanya enam orang, tetapi diskusi berlangsung hampir dua jam.
Perbedaan pendapat muncul. Ada yang berpendapat mahasiswa memang semakin pragmatis, ada yang menyebut kurangnya literasi politik sebagai penyebab. Data dicari langsung lewat ponsel. Argumen saling diuji. Bahkan, suasana sempat memanas karena perbedaan sudut pandang.
“Justru di situ serunya. Kita benar-benar mikir dan mempertahankan pendapat,” kata salah satu peserta.
Dua gambaran ini menunjukkan kontras yang menarik. Forum besar belum tentu menghasilkan diskusi yang hidup, sementara pertemuan kecil justru bisa lebih substantif.
Perubahan pola komunikasi generasi muda juga ikut memengaruhi dinamika ini. Di era digital, mahasiswa lebih cepat menyampaikan opini di media sosial. Perdebatan bisa terjadi di kolom komentar atau platform diskusi daring.
Respons datang cepat, isu menyebar luas, dan pandangan beragam muncul dalam waktu singkat. Namun, diskusi digital sering kali berjalan terlalu cepat. Emosi mudah tersulut, argumen dipadatkan dalam beberapa kalimat, dan refleksi mendalam kerap terlewat. Banyak yang berani berbicara di ruang digital, tetapi ragu ketika harus menyampaikan pendapat secara langsung di forum.
Ada yang merasa kurang percaya diri. Ada yang takut salah bicara. Ada pula yang datang ke diskusi tanpa sempat membaca materi sebelumnya, sehingga sulit ikut terlibat aktif. Padahal, diskusi yang substantif tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar acara atau seberapa terkenal narasumbernya.
Yang lebih penting adalah kesiapan peserta dan desain forum. Diskusi membutuhkan ruang aman untuk berbeda pendapat. Ia juga membutuhkan budaya membaca dan kebiasaan berpikir kritis.
Beberapa komunitas mahasiswa mulai mencoba pendekatan berbeda. Mereka membagikan bahan bacaan sebelum diskusi dimulai agar peserta punya bekal. Ada yang membatasi jumlah peserta supaya pembahasan lebih fokus. Ada pula yang menggunakan format diskusi kelompok kecil agar semua punya kesempatan berbicara.
Langkah-langkah ini sederhana, tetapi berdampak. Diskusi menjadi lebih interaktif, tidak hanya satu arah. Peserta merasa lebih terlibat, bukan sekadar menjadi pendengar.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang substansi atau formalitas bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini lebih sebagai refleksi bersama. Diskusi adalah salah satu ciri khas dunia mahasiswa ruang untuk menguji gagasan, mempertanyakan asumsi, dan memperluas sudut pandang.
Jika diskusi hanya menjadi agenda rutin dan konten dokumentasi, maka ia kehilangan ruhnya. Namun jika diskusi mampu membuat mahasiswa pulang dengan pikiran yang terus bekerja, merenung, mempertimbangkan ulang pendapatnya, bahkan mungkin berubah pandangan, maka tradisi itu masih hidup.
Pada akhirnya, diskusi bukan sekadar hadir dan duduk mendengarkan pemateri berbicara panjang lebar. Diskusi adalah ruang untuk berpikir aktif, menyampaikan pendapat dengan argumentasi yang jelas, sekaligus bersedia menerima koreksi. Di sanalah letak nilai utamanya. Tanpa keberanian untuk berbicara dan kerendahan hati untuk dikritik, forum hanya menjadi formalitas yang berulang.
Bisa jadi, budaya diskusi mahasiswa sebenarnya tidak pernah hilang. Ia hanya meredup karena dijalankan tanpa kesungguhan. Diskusi kerap dianggap sebagai agenda rutin organisasi, bukan sebagai kebutuhan intelektual. Akibatnya, peserta datang sekadar memenuhi kewajiban, bukan karena dorongan rasa ingin tahu.
Padahal ketika kesadaran itu tumbuh, suasana bisa berubah. Diskusi tidak lagi terasa kaku atau membosankan, melainkan menjadi ruang yang hidup. Setiap orang terdorong untuk membaca lebih dulu, menyiapkan pandangan, dan menghargai perbedaan pendapat. Moderator berperan menjaga arah pembahasan, sementara peserta aktif saling menanggapi secara santun.
Dari proses seperti itulah gagasan lahir. Kritik menjadi tajam tanpa harus menjatuhkan. Perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan untuk memperluas sudut pandang. Kampus pun kembali menjalankan fungsinya sebagai ruang pertukaran pikiran yang sehat dan bermakna.
Pada akhirnya, kualitas diskusi tidak ditentukan oleh seberapa sering ia diadakan, melainkan oleh keseriusan orang-orang di dalamnya. Jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, diskusi bisa menjadi denyut nadi kehidupan intelektual mahasiswa.
*) Maulidya Hanin Najahah adalah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya dan sedang mengikuti program magang di Ketik.com
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi. (*)
