KETIK, JAKARTA – Fotografer Indonesia Ali Azhar D menorehkan prestasi di ajang internasional dengan meraih penghargaan Magician of Motion Picture kategori Fotografi dari World Film Carnival Singapore, Rabu, 31 Desember 2025. Pengumuman tersebut disampaikan melalui laman resmi World Film Communities Network.
Penghargaan itu diraih lewat karya foto berjudul “Seeds of Life: The Eternal Dialogue Between Soil and People”.
Foto tersebut menampilkan sosok petani yang berdiri di tengah genangan air yang memantulkan langit, dengan tangan lapuk termakan waktu merangkul tanah layaknya kekasih. Setiap benih yang ditanam digambarkan sebagai janji, sementara setiap bulir yang dipanen menjadi pemenuhannya.
Karya Ali mengajak penikmatnya merenungkan paradoks sederhana namun mendalam, bahwa dari lumpur yang kotor lahir kemurnian kehidupan.
Dari kesunyian sawah, hadir roti penghidupan bagi jutaan orang yang tak pernah mengenal petani. Saat matahari memandikan tubuh petani yang membungkuk dengan cahaya keemasan, tergambar pelajaran tentang ketundukan, bahwa manusia pekerja keras tetap harus tunduk pada kekuatan yang lebih besar seperti musim, cuaca, dan waktu.
Melalui potret ini, Ali mengingatkan peradaban tidak hanya dibangun oleh gedung pencakar langit, tetapi juga oleh tangan-tangan yang rela basah dan berlumpur.
Di tengah dunia yang terobsesi pada kecepatan dan efisiensi, para petani mengajarkan arti kesabaran dan irama kehidupan yang tak bisa dipercepat. Setiap butir beras menjadi jejak tangan mereka yang setia memberi makan tanah.
"Ketika saya memotret petani itu, saya tidak sedang mendokumentasikan pekerjaan—saya sedang merekam doa. Setiap gerakan tangannya di lumpur adalah liturgi kehidupan yang telah berlangsung ribuan tahun. Penghargaan ini bukan untuk saya, tetapi untuk jutaan tangan tak terlihat yang memberi makan dunia tanpa pernah meminta pengakuan," ungkap Ali dengan penuh makna.
Ali menjelaskan filosofi di balik karyanya yang sarat pesan sosial. 'Seeds of Life' adalah tentang paradoks yang indah: dari tanah yang kotor lahir kehidupan yang suci.
"Dalam era di mana semua orang berlomba menjadi 'terlihat', saya memilih memotret mereka yang sengaja dilupakan. Seni memiliki tanggung jawab moral—untuk menyuarakan yang sunyi, untuk menerangi yang tersembunyi, untuk memuliakan yang dianggap remeh," paparnya.
Tentang proses kreatifnya, Ali menekankan pentingnya kesabaran dalam fotografi.
"Fotografi bukan tentang menekan tombol rana, tetapi tentang menunggu hingga jiwa dari subjek bersedia berbicara," katanya singkat namun sarat makna.
Merespons penghargaan yang diterimanya, Ali menyampaikan rasa syukur.
"Setiap butir beras adalah jejak tangan mereka yang memberi makan tanah. Penghargaan ini adalah ucapan terima kasih saya kepada mereka," ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan universal, "Peradaban tidak hanya dibangun oleh menara tinggi, tetapi juga oleh tangan yang rela basah dan berlumpur."
Menariknya, karya yang meraih penghargaan internasional ini berawal dari sebuah tugas kuliah biasa.
"Awalnya ini adalah tugas ujian tengah semester (UTS). Setelah mendapatkan nilai di atas 90, saya berpikir kenapa tidak mencoba mendaftarkan karya ini ke kompetisi," ujar Ali saat dikonfirmasi, Rabu, 31 Desember 2025.
World Film Carnival Singapore (WFCS) adalah festival film internasional berbasis IMDb yang digelar setiap bulan sejak 2019 oleh Shailik Bhaumik. Para pemenang bulanan akan ditayangkan di Singapura dan dinilai oleh Cult Critic sebelum berkompetisi dalam ajang Golden Merlion Awards yang bergengsi.
Sebagai wujud syukur atas pencapaiannya, Ali berencana meluncurkan bisnis baru sekaligus berbagi kepada sesama.
"Pada tanggal 1 Januari 2026, saya meluncurkan website baru saya untuk Public Relations Agency dan juga peresmian usaha baru saya di bidang komunikasi, sebagai bentuk rasa syukur kami sekalian mendonasikan dengan nominal yang kami rahasiakan ke saudara kita yang ada di Sumatera yang lagi terdampak bencana," kata Ali Azhar D, founder AAD Today Universal.
Prestasi Ali Azhar D membuktikan bahwa karya fotografi Indonesia mampu berbicara di panggung internasional, sekaligus membawa misi mulia untuk mengangkat martabat para petani yang menjadi pilar kehidupan namun kerap terlupakan.(*)
