Indonesia dipermak Vietnam 0-3 di kandang. Tidak sedikit pendukung Timnas Indonesia heran dan seakan protes dengan taktik yang digunakan John Herdman saat melawan juara bertahan Piala AFF Vietnam. Betapa tidak, dengan skuad mewah dengan nilai pasar tertinggi Rp 163,82 miliar justru kalah di kandang. Salah satu yang diperdebatkan adalah pemilihan para pemain saat laga tersebut.
Gol cepat lawan di menit ke-4 seakan memberi alarm betapa rapuhnya pertahanan Indonesia disisi kanan. Tidak hanya sering salah komunikasi, kecepatan para pemain Vietnam gagal dibendung. Pun demikian dengan gol kedua, pertahanan belakang mampu dieksploitasi. Sementara sang pelatih justru asyik di tribun penonton dan mendampingi para pemain di sisi lapangan.
Kesan meremehkan lawan nampak begitu jelas.Tapi Herdman lupa jika yang dihadapi adalah Vietnam sang juara bertahan sekaligus seteru abadi Indonesia. Mungkin itu yang sedikit mengusik perhatian para pecinta sepak bola di tanah air. Terlebih para pendudkung Garuda yang datang langsung ke Stadion Pakansari.
Kekalahan 0-3 atas Vietnam banyak menyisakan cerita dan kesedihan.Termasuk terkait peluang Indonesia lolos fase grup dan soal gensi kalah di kandang dengan skor telak. Meskipun peluang lolos masih ada, namun perjuangan berar Risky Ridho dan koleganya tidak mudah.Bertandang ke kandang Singapura wajib menang. Tidak ada istilah seri apalagi kalah, yang ada hanya wajib menang. Tak terkecuali seperti partai final jika ingin menyegel lolos fase grup atau babak semi final.
Tak hanya soal rapuhnya pertahanan, pemilihan pemain pun juga banyak dipertanyakan. Memasang Jordy Amat, Mark Klock, dan Shaye Pattyname di laga krusial juga dipertanyakan. Jordy dan Klock dianggap sudah lewat masa keemasannya apalagi berhadapan dengan pemain yang memilki kecepatan saat melakukan counter attac. Terbukti dua gol cepat yang meruntuhkan mental para pemain bermula dari serangan balik cepat. Celakanya, Herdman tidak melakukan rotasi pemain di babak kedua.
Ketergantungan akan sosok Tom Haye dan Mitchell Lee Baker cukup tinggi. Seakan para pemain sibuk melihat di mana posisi kedua pemain tersebut. Akibatnya, long pass yang diarahkan ke Baker, dan Vietnam tahu itu. Termasuk posisi Haye yang terkunci. Padahal, pola permainan tidak harus dengan longg pass, tapi bisa dibangun dari lapangan tengah dengan memainkan satu dua sentuhan. Diakui atau tidak, Vietnam adalah tim berpengalaman menghadapi Indonesia. Sehingga tahu cara bermain yang efektif.
Kesuksesan Vietnam mematikan peran Haye dan Baker seakaan membuat para pemain Indonesia frustasi. Salah satunya adalah hadiah kartu kuning untuk Haye setelah melakukan pelanggaran keras. Kondisi ini semakin dimanfaatkan lawan. Apalagi tekanan suporter di Stadion Pakansari terus mengalir. Sebaliknya, Vietnam justru lebih asyik bermain seakan bermain di kandang.
Kemudian, sang penjaga gawang yang kebobolan dua gol dalam waktu 15 menit juga menjadi atensi pelatih. Meskipun hal ini bisa dimaklumi, dengan asumsi mengganti penjaga gawang dalam waktu singkat cukup beresiko. Mungkin saja Herdman mengganggap Nadeo lebih berpengalaman dibanding dua penjaga gawang penggati.
Kini tekanan berat ada dipundak Herdman, wajib menang di kandang Singapura, karena jika gagal maka melengkapi kegagalan Indonesia lolos fase grup dua kali secara beruntun. Pada edisi sebelumnya di era Shin Tae-yong juga gagal lolos fase grup. Tentu publik di tanah air sangat berharap Herdman bisa berbuat yang terbaik di matchday terakhir melawan Singapura. Jika sampai gagal, sangat mungkin akan bernasib sama seperti STY yang tidak diperpanjang kontrak kerjanya.
Secara matematis harusnya Indonesia bisa menjuarai Piala AFF untuk kali pertama. Selain banyak dihuni oleh pemain naturalisasi, market Value tertinggi Rp163,82 miliar dibanding tim peserta lainnya, semoga (*)
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
