Perubahan bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Setiap zaman menghadirkan tantangan baru, dan setiap tantangan membutuhkan cara berpikir serta cara kerja yang baru. Bertahan pada pola lama ketika keadaan telah berubah justru dapat membuat organisasi kehilangan daya gerak, kreativitas, dan relevansinya.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Ayat tersebut memberikan landasan kuat bahwa perubahan menuju keadaan yang lebih baik harus dimulai dari kesadaran, kemauan, dan ikhtiar manusia. Memperbaiki cara berpikir, cara bekerja, dan cara memberikan manfaat merupakan bagian dari tanggung jawab moral sekaligus spiritual.
Dalam tradisi pesantren, dan selalu dibunyikan oleh para santri bahwa semangat perubahan juga dikenal melalui kaidah:
المُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ
Al-muḥāfaẓatu ‘alal-qadīmiṣ-ṣāliḥ, wal-akhżu bil-jadīdil-aṣlaḥ.
“Memelihara tradisi lama yang masih baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.”
Kaidah ini mengajarkan bahwa perubahan tidak berarti menolak atau menghapus seluruh sistem lama. Hal-hal lama yang masih baik tetap dipertahankan. Namun, ketika ditemukan pendekatan baru yang lebih relevan, efektif, dan membawa kemaslahatan lebih besar, kita harus berani mengambil dan menerapkannya.
Dalam semangat itulah, perubahan sistem kerja TPP–TAPM Pusat dari pendekatan berbasis waktu atau time based menuju pendekatan berbasis keluaran atau output based perlu ditempatkan. Perubahan ini bukan hanya persoalan teknis administrasi, melainkan ikhtiar membangun budaya kerja yang lebih produktif, berkualitas, dan berdampak.
Ketika Jam Kerja Belum Sepenuhnya Menggambarkan Kinerja
Sistem kerja berbasis waktu pada dasarnya dibangun untuk menjaga kedisiplinan. Kehadiran, jumlah jam kerja, serta pengisian Daily Report Performance (DRP) menjadi instrumen untuk memastikan setiap personel menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Sistem ini penting, tetapi tidak selalu cukup.
Kehadiran seseorang di kantor selama delapan jam belum tentu berbanding lurus dengan hasil kerjanya. Sebaliknya, seseorang yang sedang melakukan koordinasi, menyusun kajian, mengolah data, membangun jejaring, atau menyelesaikan persoalan di lapangan mungkin tidak selalu terlihat berada di kantor, tetapi justru sedang menghasilkan pekerjaan yang bernilai.
Persoalan muncul ketika jumlah jam kerja dan keterisian DRP menjadi ukuran yang terlalu dominan. Orientasi kerja perlahan dapat bergeser: dari menghasilkan sesuatu menjadi sekadar mencatat aktivitas; dari menyelesaikan persoalan menjadi memenuhi kolom laporan; serta dari bekerja untuk mencapai tujuan menjadi bekerja hanya untuk memenuhi durasi waktu.
Dalam kondisi seperti itu, DRP berisiko kehilangan makna substantif dan berubah menjadi formalitas administratif. Apabila tidak disertai mekanisme verifikasi yang baik, sistem berbasis waktu juga dapat membuka ruang bagi pencatatan aktivitas yang repetitif, kurang relevan, atau tidak sepenuhnya menggambarkan pekerjaan yang sebenarnya.
Tentu, bukan berarti absensi dan DRP tidak diperlukan. Keduanya tetap penting untuk menjaga disiplin, mendokumentasikan proses, dan memastikan akuntabilitas. Namun, absensi dan DRP seharusnya ditempatkan sebagai instrumen pendukung, bukan sebagai tujuan akhir.
Inilah bentuk penerapan kaidah al-muḥāfaẓatu ‘alal-qadīmiṣ-ṣāliḥ: sistem lama yang masih baik tetap dipertahankan. Sementara itu, pendekatan baru yang lebih mampu mengukur produktivitas dan kualitas hasil harus diambil sebagai wujud wal-akhżu bil-jadīdil-aṣlaḥ.
Dari Sekadar Sibuk Menjadi Benar-Benar Produktif
Perubahan menuju output based mengajak kita membedakan antara “terlihat sibuk” dan “benar-benar produktif”.
Kesibukan berbicara tentang banyaknya aktivitas, sedangkan produktivitas berbicara tentang hasil yang dicapai. Seseorang dapat mengikuti banyak rapat, mengirim banyak pesan, dan mengisi berbagai laporan, tetapi belum tentu menghasilkan keluaran yang dapat dimanfaatkan oleh organisasi.
Dalam sistem output based, pertanyaan utamanya bukan lagi sekadar, “Berapa lama Anda bekerja?”, tetapi:
Apa yang telah Anda hasilkan?
Apakah pekerjaan tersebut selesai tepat waktu?
Bagaimana kualitas hasilnya?
Siapa yang memperoleh manfaat?
Seberapa besar kontribusinya terhadap pencapaian program?
Karena itu, setiap tugas harus diterjemahkan menjadi keluaran yang jelas, terukur, dapat diverifikasi, dan memiliki tenggat waktu. Output tersebut dapat berupa dokumen kebijakan, hasil kajian, basis data, pedoman teknis, laporan analisis, desain program, penyelesaian masalah, pengembangan jejaring, bahan pengambilan keputusan, maupun produk kerja lainnya.
Dengan pola ini, setiap personel memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ide dihargai, inovasi mendapatkan tempat, dan kontribusi tidak lagi hanya diukur dari keberadaan fisik, tetapi terutama dari kualitas hasil kerja.
Fleksibel Bukan Berarti Bebas Tanpa Kendali
Sistem kerja berbasis output bukan berarti setiap orang bebas bekerja tanpa aturan. Fleksibilitas tetap harus berjalan dalam koridor disiplin, target, koordinasi, dan akuntabilitas.
Absensi tetap diperlukan. Kehadiran di kantor juga tetap penting, terutama untuk rapat, konsolidasi tim, evaluasi, dan agenda strategis lainnya. Namun, kantor tidak harus dipandang sebagai satu-satunya tempat seseorang dapat bekerja secara produktif.
Sebagian pekerjaan harus dilakukan di lapangan. Sebagian lainnya membutuhkan komunikasi dengan berbagai pihak, pengumpulan data, penyusunan konsep, analisis, atau konsentrasi yang tidak selalu terikat pada meja kerja.
Karena itu, fleksibilitas harus disertai target yang jelas, jadwal penyelesaian, bukti dukung, standar kualitas, dan mekanisme evaluasi. Semakin besar fleksibilitas yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus ditunjukkan.
Prinsipnya sederhana: cara bekerja boleh lebih lentur, tetapi target dan hasilnya tidak boleh kabur.
Mendorong Terobosan dan Akselerasi Kinerja
TPP–TAPM Pusat membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menjalankan rutinitas, tetapi juga berani melahirkan terobosan.
Tantangan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat terus berkembang. Karena itu, respons organisasi tidak boleh berjalan lambat dan biasa-biasa saja.
Pendekatan output based dapat mendorong setiap individu untuk lebih aktif membaca persoalan, menawarkan solusi, membangun kolaborasi, dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Setiap orang didorong untuk tidak sekadar menunggu perintah, tetapi memiliki inisiatif dalam batas tugas dan kewenangannya.
Budaya kerja seperti ini akan melahirkan pribadi-pribadi yang kreatif, adaptif, dan bertanggung jawab. Bukan hanya bekerja karena kewajiban administratif, tetapi bekerja karena menyadari bahwa setiap tugas memiliki tujuan dan manfaat yang lebih besar.
Namun, penerapan sistem tersebut harus dilakukan secara adil. Target setiap personel harus disesuaikan dengan tugas, fungsi, tingkat kesulitan, dan beban kerjanya. Pekerjaan rutin tentu tidak dapat disamakan dengan pekerjaan yang membutuhkan riset mendalam, koordinasi lintas lembaga, ataupun penyelesaian persoalan yang kompleks.
Oleh karena itu, indikator kinerja harus dirancang secara objektif, rasional, proporsional, dan transparan.
Perubahan yang Harus Dipersiapkan
Transformasi menuju output based tidak cukup dilakukan hanya dengan mengganti istilah. Sistem pendukungnya juga harus dibangun secara matang.
Setidaknya diperlukan pembagian tugas yang jelas, target individual dan bidang, indikator kualitas, tenggat waktu, bobot pekerjaan, standar bukti dukung, mekanisme verifikasi, serta evaluasi secara berkala. Sistem digital juga perlu disiapkan untuk mencatat penugasan, progres, hasil, dan manfaat dari setiap pekerjaan.
Pimpinan atau koordinator tidak hanya berfungsi memeriksa kehadiran, tetapi juga memberikan arah, memastikan pembagian pekerjaan berlangsung adil, mengatasi hambatan, serta menjaga kualitas output.
Masa transisi juga diperlukan agar seluruh personel memiliki pemahaman yang sama. Uji penerapan menjadi penting untuk menemukan kekurangan, menyesuaikan indikator, dan memastikan sistem baru tidak justru melahirkan beban administratif baru.
Kerja yang Berkualitas adalah Kerja yang Memberikan Manfaat
Pada akhirnya, perubahan dari time based menuju output based bukan sekadar perubahan metode pelaporan. Ini merupakan perubahan cara pandang: dari menghitung waktu menuju menghargai hasil; dari mencatat kesibukan menuju membuktikan kontribusi; serta dari memenuhi kewajiban administratif menuju menghasilkan manfaat nyata.
Hidup harus terus bertumbuh dan menjadi lebih berkualitas. Demikian pula organisasi. Ia tidak boleh berhenti pada rutinitas, tetapi harus berani melakukan evaluasi dan memperbaiki sistem kerjanya.
Absensi tetap dibutuhkan untuk menjaga disiplin. Daily Report Performance (DRP) tetap diperlukan untuk merekam proses dan capaian kerja. Namun, keduanya harus ditempatkan secara proporsional. Ukuran utama kinerja harus terletak pada kualitas keluaran, ketepatan waktu, tanggung jawab, kontribusi individual, serta dampaknya terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Perubahan memang tidak selalu mudah. Namun, selama diarahkan menuju kebaikan, dipersiapkan dengan matang, dan dijalankan secara bertanggung jawab, perubahan harus disambut sebagai sebuah kesempatan.
Dengan tetap memelihara sistem lama yang masih baik dan mengambil pendekatan baru yang lebih baik, transformasi menuju output based bukanlah bentuk penolakan terhadap masa lalu. Transformasi ini adalah ikhtiar untuk menyempurnakan masa kini sekaligus mempersiapkan masa depan.
Sebab, bekerja bukan hanya tentang berapa lama kita hadir. Bekerja adalah tentang apa yang kita hasilkan, perubahan apa yang kita ciptakan, dan manfaat apa yang kita tinggalkan, Semoga....
*) AJ. Purmawan merupakan TPP-TAPM Pusat Bidang BUMDES-BUMDESMA
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
