Ada satu kesalahpahaman berulang ketika orang bicara soal bisnis. Seolah-olah yang dibutuhkan itu ide brilian. Padahal, kalau kita jujur melihat perjalanan para pelaku usaha besar, yang paling menentukan justru bukan ide. Tapi ketahanan menjalani proses yang membosankan, berulang, dan sering kali tidak menjanjikan hasil cepat.
Coba lihat cara berpikir Warren Buffett. Ia tidak pernah tergoda pada sesuatu yang kelihatan “wah” di permukaan. Fokusnya sederhana, bisnis itu harus menghasilkan uang secara konsisten. Bukan sesekali meledak, lalu hilang.
Dalam logikanya, usaha yang sehat adalah usaha yang bisa bertahan lama. Bukan yang ramai sebentar lalu tenggelam. Ini terdengar biasa saja, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Banyak orang ingin cepat terlihat sukses, padahal yang lebih penting adalah tetap hidup dalam jangka panjang.
Pandangan itu sebenarnya sejalan dengan pengalaman Jack Ma. Ia tidak memulai dari fasilitas mewah atau modal besar. Bahkan, berkali-kali gagal. Yang menarik, ia tidak pernah menjual mimpi terlalu manis.
Tagline Jack Ma, yang terkenal “hari ini sulit, besok lebih sulit, lusa baru mungkin indah”. Itu bukan motivasi kosong. Itu peringatan. Bahwa fase paling berat justru ada di awal. Saat tidak ada yang percaya. Tidak ada hasil, dan keraguan datang dari mana-mana. Termasuk dari diri sendiri. Di titik ini, banyak orang berhenti. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak tahan.
Lalu ada pendekatan yang lebih keras lagi dari Elon Musk. Ia melihat bisnis sebagai soal menyelesaikan masalah, bukan sekadar mencari untung. Tapi yang sering dilupakan orang dari sosok ini adalah etos kerjanya.
Dia tidak bicara soal keseimbangan hidup di awal membangun usaha. Ia bicara soal kerja ekstrem, fokus penuh, dan kesediaan menanggung tekanan yang tidak ringan. Ini bukan untuk ditiru mentah-mentah, tapi memberi gambaran bahwa kesuksesan besar jarang datang dari ritme yang santai.
Di Indonesia, pendekatan yang lebih “melokal” bisa dilihat dari Almarhum Bob Sadino. Ia justru sering mengkritik orang yang terlalu banyak berpikir sebelum mulai. Menurutnya, kegagalan terbesar itu bukan karena usaha jatuh. Tapi karena tidak pernah benar-benar mulai.
Ia tidak alergi pada kegagalan. Baginya, gagal itu bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus dihindari mati-matian.
Kalau disatukan, ada benang merah yang cukup jelas dari keempat tokoh ini. Mereka tidak menjual ilusi bahwa bisnis itu jalan cepat menuju kekayaan. Mereka justru bicara soal hal-hal yang kurang menarik, konsistensi, kerja keras, kegagalan, dan kesabaran. Masalahnya, hal-hal seperti itu tidak laku dijadikan bahan motivasi instan.
Di lapangan, banyak yang ingin langsung loncat ke hasil. Baru mulai usaha, sudah berpikir soal ekspansi. Baru dapat sedikit keuntungan, sudah ingin terlihat besar. Padahal fondasinya belum kuat.
Akibatnya, ketika ada guncangan kecil saja seperti penjualan turun, pelanggan komplain, atau modal seret langsung goyah. Padahal bisnis itu bukan soal seberapa cepat naik, tapi seberapa kuat bertahan.
Ada satu hal lagi yang sering diabaikan, yaitu kepercayaan. Buffett, menekankan ini dengan sangat keras. Sekali kepercayaan rusak, dampaknya panjang. Dalam konteks sekarang, ini relevan sekali.
Orang bisa dengan mudah menjual apa saja lewat media sosial. Tapi mempertahankan pelanggan jauh lebih sulit daripada mendapatkan pembeli pertama. Sekali kecewa, orang bisa pergi tanpa kembali.
Di sinilah bisnis berubah dari sekadar jual beli menjadi soal karakter. Pertanyaannya kemudian, kalau semua tokoh ini sepakat bahwa proses itu berat, kenapa masih banyak yang menganggap bisnis sebagai jalan pintas?
Jawabannya mungkin karena kita lebih sering melihat hasil akhir daripada prosesnya. Kita lihat perusahaan besar, tapi tidak melihat tahun-tahun sepinya. Kita lihat kesuksesan, tapi tidak melihat kegagalannya. Akhirnya yang tertangkap hanya permukaannya saja.
Padahal realitanya, membangun bisnis itu sering kali diam-diam. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada perhatian orang. Hanya kerja harian yang kadang terasa monoton. Justru di fase itulah fondasi dibentuk.
Jadi kalau ada yang bertanya bagaimana memulai bisnis dari nol, mungkin jawabannya tidak perlu dibuat rumit. Mulai saja dari hal kecil, jalankan dengan serius, dan bertahan lebih lama dari kebanyakan orang. Itu saja dulu.
Karena pada akhirnya, seperti yang ditunjukkan para tokoh tadi, keberhasilan dalam bisnis bukan soal siapa yang paling pintar memulai. Tapi siapa yang paling tahan untuk terus berjalan.
*) Arga Prasetyo merupakan pegiat medsos dan pemerhati entrepreneur muda di Kota Probolinggo
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
