KETIK, MALANG – Yayasan Omah Gembira menggelar kegiatan sosial bertajuk "Kilau Khitan Gembira" di Hotel Grand Mercure, Kota Malang, Minggu, 17 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak difabel, yatim piatu, duafa, hingga anak berkebutuhan khusus.
Ketua Yayasan Omah Gembira, Riza Agung Pribadi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap hak kesehatan anak, terutama bagi anak-anak dari kelompok rentan dan keluarga kurang mampu.
"Ini adalah kegiatan tahunan yang kami gelar untuk memfasilitasi hak kesehatan anak-anak. Tidak hanya disabilitas, melainkan terbuka untuk umum seperti yatim piatu dan dhuafa," jelasnya kepada Ketik.com.
Dalam kegiatan itu, pihaknya berkolaborasi dengan berbagai pihak. Kementerian Sosial memberikan dukungan bagi peserta yang masuk kategori desil 1 sampai 5, sementara lainnya mendapat bantuan dari lembaga sosial Nurul Hayat dan komunitas lainnya.
"Bagi peserta yang tidak masuk kategori desil seperti beberapa anak disabilitas lainnya, juga mendapat dukungan dari Nurul Hayat berupa paket khitan dan bantuan nutrisi," tambahnya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan tempat dari Hotel Grand Mercure Malang yang selama ini dikenal aktif mendukung kegiatan inklusif. Dukungan lain datang dari pelaku usaha dan komunitas filantropi seperti Elio Group.
Kegiatan itu pun diserbu oleh anak-anak dengan total sebanyak 99 peserta. Dari jumlah itu, sebanyak 59 peserta mendapat dukungan program dari Kementerian Sosial dan sekitar 40 peserta lainnya berasal dari kategori nondesil.
Tidak hanya menyediakan layanan khitan gratis, panitia juga menyiapkan layanan kontrol pascakhitan. Para peserta dijadwalkan pemeriksaan kondisi serta pelepasan klem khitan pada 24 Mei 2026.
"Kami tidak hanya sekedar khitan saja, melainkan juga ada kontrol pascakhitan untuk memastikan kondisinya baik," tambahnya.
Ia berharap kolaborasi berbagai pihak dalam kegiatan tersebut dapat menjadi contoh penerapan lingkungan inklusif. Meningkatkan akses layanan kesehatan bagi anak-anak difabel dan kelompok rentan di Kota Malang.
"Harapannya, ini bisa menjadi wujud kolaborasi pentahelix bersama pemerintah, komunitas dan filantropi untuk menciptakan lingkungan yang inklusif bagi anak-anak di Malang," tandasnya. (*)
