KETIK, PACITAN – Di usia 65 tahun, Suprihati masih mengandalkan tenaga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Warga RT 3/RW 1, Craken Wetan, Desa Sumberharjo, Pacitan, itu bekerja sebagai buruh masak saat mendapat panggilan hajatan atau katering.
Ketika musim tanam tiba, pekerjaannya berganti.
Ia turun ke sawah menjadi buruh tani.
Suprihati mengatakan, pekerjaan tersebut akan dijalaninya selama tubuhnya masih mampu bekerja.
"Alhamdulillah, saya diberi kesehatan oleh Allah. Ada orang-orang yang memanggil saya untuk memasak, ada hajatan, katering, saya jalani. Kalau musim sawah saya juga ke sawah. Yang penting saya masih bisa," katanya kepada Ketik.com, Selasa, 8 September 2026.
Sebagai tukang masak, Suprihati memperoleh upah Rp100 ribu dalam sehari.
Pada pekerjaan tertentu, ia pernah mendapatkan bayaran hingga Rp300 ribu.
"Kalau ada acara tertentu atau acara mendadak, pernah saya diberi Rp300 ribu. Saya sampai bilang, 'Duh, ini kok banyak sekali,'" katanya.
Meski sama-sama bergelut di dapur, jika dibandingkan pekerja bagian cuci ompreng atau tim sanitasi di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan gaji sekitar Rp2,4- Rp3,5 per bulan tentu Suprihati kalah jauh.
Pekerjaan MBG penuh dengan kepastian, sementara pekerjaan memasaknya tidak datang setiap hari.
Penghasilannya bergantung pada ada tidaknya warga yang menggelar hajatan atau membutuhkan tenaga untuk memasak.
"Kadang sampai nunggu berminggu-minggu, kok tidak ada yang minta," cerita pilu Suprihati.
Saat Musim Tanam Beralih Jadi Buruh Tani
Ketika tidak ada panggilan memasak, Suprihati pun terpaksa beralih pekerjaan sebagai buruh tani demi bertahan hidup.
Musim tanam menjadi salah satu masa ketika ia dapat bekerja hampir setiap hari.
Untuk pekerjaan menanam, ia memperoleh upah Rp50 ribu untuk setengah hari atau sekitar Rp100 ribu untuk sehari.
Dalam sejumlah pekerjaan, upah tersebut sudah termasuk makan.
"Kalau menanam, setengah hari Rp50 ribu dan mendapat makan. Kalau sehari sekitar Rp100 ribu. Sudah sangat bersyukur, meskipun sehari bekerja kepanasan. Saya senang karena diberi pekerjaan," ujarnya.
Momen adanya pekerjaan sebagai buruh tani dapat berlangsung hingga sekitar satu bulan.
Setelah musim tanam selesai, ia kembali menunggu pekerjaan lain yang bisa dilakukan.
Masih Menanggung Kebutuhan Dua Anak
Di tengah usianya yang sudah lanjut, Suprihati masih memiliki tanggung jawab terhadap dua anaknya.
Salah satu anaknya memiliki disabilitas fisik, sementara anak lainnya masih berkuliah di Pacitan.
"Anak saya empat, anak yang satu sudah meninggal. Yang satu merantau. Yang dua masih tinggal sama saya," tuturnya.
Suprihati mengakui bahwa tidak baru bekerja keras setelah suaminya, Dwi Haryono, meninggal sekitar 2022.
Jauh sebelumnya, ia sudah terbiasa menjalani kehidupan dengan kondisi ekonomi yang tidak mudah.
Ketika kondisi ekonomi keluarga berat, Suprihati bahkan sempat ikut mencari penghasilan buruh kasar.
"Saya pernah ikut kerja Padat Karya, mencangkul parit. Pekerjanya laki-laki 50 orang dan yang janda empat orang termasuk saya," kenangnya.
Pekerjaan tersebut tetap dijalaninya meski sedang berpuasa dan harus merawat suaminya yang sakit serta adiknya yang disabilitas.
"Saya dalam keadaan puasa, alhamdulillah masih kuat. Sambil merawat bapak yang sakit. Kalau malam saya kurang tidur. Sungguh, kadang kalau mengingat itu saya berpikir, 'Ya Allah, saya kok diberi kekuatan.' Alhamdulillah," ujar Suprihati.
Di tengah keterbatasan penghasilan, Suprihati juga tercatat sebagai penerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
“Iya, dapat Rp1,2 juta dan Rp600.000 setiap tiga bulan. Bagi kami itu sangat membantu sekali,” ungkapnya.
Menurut Suprihati, selama kesehatan masih diberikan dan tubuh masih mampu bergerak, pekerjaan apa pun akan tetap dijalani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.(*)
