KETIK, BLITAR – Sosok Guntur Wahono kembali menegaskan posisinya sebagai figur yang lekat dengan denyut nadi “wong cilik”. Di tengah semarak perayaan HUT ke-12 Laskar Peduli Kasih di Lapangan Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, Minggu, 3 Mei 2026, Guntur tak sekadar hadir ia menyatu.
Bagi sosok Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar ini, keramaian pagi itu bukan sekadar angka ratusan atau ribuan warga yang datang. Lebih dari itu, ada denyut harapan yang berkumpul, ada kepercayaan yang tumbuh pelan-pelan di antara masyarakat kecil yang ingin didengar.
“Bagi saya, kegiatan seperti ini bukan hanya seremoni. Ini adalah ruang bertemu antara harapan rakyat dan kepedulian kita sebagai wakilnya,” ujar Guntur, dengan nada tenang namun penuh penekanan.
Ia menilai, kegiatan sosial seperti yang digelar Laskar Peduli Kasih adalah bentuk nyata politik yang membumi politik yang tidak berbicara di atas podium semata, tetapi hadir di tengah masyarakat dengan solusi langsung.
“Kalau kita bicara tentang wong cilik, maka kita harus hadir di tempat mereka berdiri, bukan hanya saat mereka butuh suara kita, tapi saat mereka butuh uluran tangan kita,” imbuh Guntur, yang merupakan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Guntur menegaskan bahwa komitmennya tidak akan berhenti pada dukungan simbolis. Ia memastikan, kegiatan sosial yang menyentuh langsung masyarakat akan selalu menjadi prioritas.
“Kami di PDI Perjuangan akan selalu berdiri di barisan depan untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti ini. Karena bagi kami, kesejahteraan rakyat bukan janji, tapi tanggung jawab,” tegasnya.
Tak hanya itu, Guntur juga menyoroti bagaimana kegiatan seperti santunan yatim piatu, pengobatan gratis, hingga pembagian makanan menjadi bukti bahwa gotong royong masih hidup di tengah masyarakat Blitar.
“Yang membuat saya bangga bukan hanya jumlah kegiatannya, tapi rasa kebersamaan yang terbangun. Ini yang harus terus dijaga. Rakyat saling menguatkan, dan kami hadir untuk memastikan itu terus berjalan,” ujarnya lagi.
Di sela kegiatan, Guntur tampak beberapa kali menyapa warga, berbincang ringan, bahkan sesekali bercanda. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat. Seolah ia ingin menegaskan bahwa dirinya bukan sekadar pejabat, melainkan bagian dari mereka.
“Jabatan itu hanya titipan. Tapi kedekatan dengan rakyat, itu yang harus dijaga seumur hidup,” ucapnya singkat, namun terasa dalam.
Ke depan, ia berharap semakin banyak komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang sosial, karena menurutnya perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Kalau semua bergerak, sekecil apapun itu, dampaknya akan luar biasa. Dan kami akan selalu mendukung bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua Laskar Peduli Kasih, Retno Puji Astutik, mengatakan bahwa ulang tahun ke-12 ini memang sengaja dirancang sebagai momentum berbagi.
“Kami ingin perayaan ini dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Tidak cuma hiburan, tapi juga layanan sosial dan kebersamaan,” tuturnya.
Turut hadir dalam kegiatan, perwakilan DPC PDI Perjuangan Kota Blitar, DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Timur, anggota tim DPRD RI PDI Perjuangan, Romy Soekarno.
Di bawah langit pagi Gembongan yang hangat, perayaan itu bukan hanya tentang ulang tahun. Ia menjelma menjadi cerita tentang harapan, tentang kepedulian, dan tentang seorang pemimpin yang memilih untuk tetap berjalan di jalur rakyatnya.
