Gandeng UB, Pemkot Batu Matangkan Program Smart Integrated Farming

1 September 2026 05:35 1 Sep 2026 05:35

Dafa Wahyu P., Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Gandeng UB, Pemkot Batu Matangkan Program Smart Integrated Farming

Penerintah Kota Batu melibatkan Universitas Brawijaya dalam pengembangan Smart Integrated Farming. (Foto: Prokopim Setda Kota Batu)

KETIK, BATU – Pemerintah Kota (Pemkot Batu) bersama akademisi Universitas Brawijaya (UB) mematangkan pengembangan Smart Integrated Farming (SIF) sebagai model pertanian terpadu berbasis teknologi, Senin, 31 Agustus 2026, di Rupatama Balai Kota Among Tani.

Konsep tersebut disiapkan untuk menghubungkan berbagai aktivitas, mulai dari budidaya pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan hasil hingga pemasaran dalam satu ekosistem yang saling terintegrasi.

Pengembangan konsep ini menjadi salah satu langkah Pemkot Batu untuk mempertahankan keberlanjutan sektor pertanian di tengah pertumbuhan Kota Batu sebagai daerah tujuan wisata.

Wali Kota Batu Nurochman mengatakan pengembangan SIF diarahkan agar perkembangan sektor pariwisata tidak berjalan dengan mengesampingkan pertanian.

Menurutnya, kedua sektor tersebut perlu dikembangkan secara beriringan sehingga keberadaan petani tetap memiliki posisi penting dalam pembangunan daerah.

“Mayoritas masyarakat Kota Batu memiliki keterkaitan dengan pertanian. Karena itu, petani harus tetap kita jaga. Pertanian juga harus kita siapkan menjadi pilihan masa depan bagi generasi muda,” ujarnya.

Karena itu, transformasi sektor pertanian melalui penerapan teknologi dan sistem pengelolaan terpadu diharapkan mampu menjaga produktivitas sekaligus menarik minat generasi muda untuk terlibat di dalamnya.

Wali Kota yang akrab disapa Cak Nur menegaskan pertumbuhan industri pariwisata perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan yang tetap memberikan ruang bagi sektor pertanian.

Dengan demikian, kemajuan Kota Batu tidak hanya bertumpu pada aktivitas wisata, tetapi juga mempertahankan sektor yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Pertumbuhan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pertanian agar tidak mengurangi peran petani dalam pembangunan kota,” imbuhnya.

Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto turut memberikan perhatian terhadap aspek pendukung dalam penerapan konsep tersebut, terutama berkaitan dengan ketersediaan air.

Keberadaan sumber daya air, jelas Mas Heli, menjadi salah satu faktor yang harus dipastikan agar sistem pertanian terpadu dapat berjalan secara berkelanjutan.

Selain persoalan air, Mas Heli mendorong agar pengembangan SIF dikaitkan dengan berbagai inovasi yang telah dilakukan petani muda di Kota Batu. Inovasi tersebut antara lain mencakup kultur jaringan hingga pengolahan pascapanen.

“Penggabungan berbagai inovasi tersebut penting agar SIF tidak berhenti sebagai lokasi percontohan. Sehingga diharapkan menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan nilai produk pertanian yang dihasilkan dari Kota Batu,” ungkap Mas Heli.

SIF dirancang menempati kawasan seluas sekitar 2,59 hektare. Area tersebut nantinya dibagi menjadi 11 zona yang dirancang saling terhubung sehingga berbagai aktivitas di dalam kawasan dapat berjalan sebagai satu kesatuan.

Penerapan teknologi menjadi salah satu komponen utama dalam konsep tersebut. Internet of Things (IoT) dan sistem pemantauan digital akan dimanfaatkan untuk membantu pengelolaan berbagai aktivitas yang berlangsung di dalam kawasan SIF.

Konsep integrasi juga diterapkan dalam pengelolaan limbah. Sisa hasil dari suatu aktivitas dirancang agar dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan lainnya.

Dengan pola tersebut, setiap bagian dalam ekosistem SIF diharapkan dapat saling mendukung dan mengurangi potensi limbah yang terbuang. (*)

Tombol Google News

Tags:

Smart Integrated Farming Pemkot Batu Wali Kota Batu Heli Suyanto Universitas Brawijaya Info Kota Batu Berita Kota Batu