Makam Troloyo, Wisata Religi dan Manfaat Ekonomi di Jantung Sejarah Mojokerto

17 April 2026 20:45 17 Apr 2026 20:45

Sholahudin, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Makam Troloyo, Wisata Religi dan Manfaat Ekonomi di Jantung Sejarah Mojokerto

Para pengunjung di depan makam syech jumadil kubro komplek makam troloyo (Foto: Sholahudin/Ketik.com)

KETIK, MOJOKERTO – Di antara jejak Kejayaan Kerajaan Majapahit di Kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ada satu Sejarah Islam yang ada Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tempat ini yakni Komplek Makam Troloyo Punjer Wali Songo Syech Jumadil Qubro.

Kompleks Wisata Religi Makam Agung Troloyo menjadi saksi bagaimana sejarah, spiritualitas, dan harapan manusia bertemu dalam satu ruang yang sama lintas generasi, lintas daerah.

Tak hanya wisata Sejarah wali songo yang ada di Indonesia, Komplek Makam Troloyo juga memberikan manfaat secara ekonomi bagi warga sekitar.

Bagi Estian Budiarti, Troloyo bukan sekadar destinasi, melainkan ruang belajar yang hidup. Bersama rombongan sekolah, ia datang untuk bersilaturahmi dengan sosok yang dianggap sebagai sesepuh, yakni Syekh Jumadil Qubro figur yang diyakini memiliki peran penting dalam syiar Islam di Trowulan.

Foto suasan asri di komplek makam troloyo (foto : sholahudin/ ketik.com)Suasan asri di komplek makam troloyo (Foto: Sholahudin/Ketik.com)

“Kami ke sini bukan hanya sekadar berkunjung, tapi juga silaturahmi. Karena menurut kami, beliau adalah sesepuh yang memiliki peran dalam penyebaran Islam di sini,” ujarnya.

Sebagai guru sejarah yang juga bagian dari masyarakat Trowulan, Estian memandang Troloyo sebagai warisan yang tidak terpisahkan dari identitas lokal. Ia menyebut, keberadaan situs religi ini sudah sangat dikenal luas, terutama dalam tradisi ziarah wali.

“Kalau soal dikenal, Troloyo ini sudah sangat terkenal. Bahkan saat momen tertentu, peziarah membludak sampai parkiran tidak cukup,” jelasnya.

Namun di balik popularitas itu, ia menyoroti pentingnya pembenahan fasilitas. Baginya, kenyamanan peziarah menjadi kunci agar nilai spiritual dan sejarah tetap bisa dirasakan secara utuh oleh para pengunjung.

Foto tukang ojek menunggu penumpang pengunjung makam troloyo (foto : sholahudin/ ketik.com)Tukang ojek menunggu penumpang pengunjung makam troloyo (Foto: Sholahudin/Ketik.com)

“Harapannya tentu ada peningkatan sarana dan prasarana, supaya orang yang datang bisa lebih nyaman dalam berziarah,” tambahnya.

Tak hanya dari Mojokerto, magnet spiritual Troloyo juga menarik peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. Salah satunya adalah Umi Napisah yang datang bersama keluarganya dari Kalimantan Selatan.

Perjalanan panjang yang ia tempuh bukan tanpa alasan. Cerita dari keluarga dan dorongan batin menjadi alasan kuat untuk menapakkan kaki di tanah yang sarat sejarah ini.

“Kami awalnya tahu dari keluarga. Lalu suami ingin ke sini, mencari ridho dan berkah. Alhamdulillah hari ini bisa sampai bersama keluarga,” tuturnya.

Umi mengaku, perjalanan mereka melintasi berbagai daerah di Pulau Jawa hingga akhirnya tiba di Trowulan. Bagi keluarganya, ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin.

“Ini tentang sejarah juga, tapi lebih dari itu, kami ingin mencari makna dan keberkahan ridho Allah SWT,” imbuhnya.

Troloyo sendiri memang bukan sekadar kompleks makam biasa. Dalam catatan sejarah, kawasan ini diyakini memiliki keterkaitan erat dengan masa peralihan dari era Majapahit menuju perkembangan Islam di tanah Jawa.

Beberapa tokoh yang dimakamkan di sini dipercaya memiliki peran penting dalam masa tersebut.

Perpaduan antara nilai sejarah dan spiritual inilah yang membuat Troloyo tetap hidup hingga kini. Ia bukan hanya menjadi tujuan wisata religi, tetapi juga ruang refleksi bagi siapa saja yang datang.

Di Troloyo, waktu seolah berjalan berbeda. Masa lalu dan masa kini bertemu dalam doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap.

Dan selama manusia masih mencari makna, tempat seperti ini akan selalu punya alasan untuk tetap ramai dan tak lekang oleh zaman.

Manfaat Ekonomi

Bagi warga sekitar komplek makam troloyo juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar. Selain warung-warung berderet di sekitar komplek makam, juga memberikan tambah ekonomi para pelaku jasa ojek.

“Untuk tarif ojek dari pangkalan sebesar 5000 rupiah saja sekali antar” ujar Momon, salah satu ojek.

Meski penghasilan tak tentu, penataan pengunjung oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto sangat memberi manfaat bagi warga sekitar. Penaataan pengunjung dilakukan untuk memberikan kenyamanan. Untuk Bus dan Elf wajib transit di parkiran yang jaraknya 1 kilometer. Selanjutnya penggunjung akan diwajibkan naik ojek menuju ke komplek makam. (*)

Tombol Google News

Tags:

makam troloyo Syech Jumadil Qubro troloyo mojokerto oemkab mojokerto majapahit trowulan info mojokerto berita mojokerto sejarah mojokerto