KETIK, MALANG – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi di Beijing pada Kamis pagi, 14 Mei 2026.
Agenda bilateral tersebut akan berlangsung selama dua hari hingga 15 Mei 2026 dan menjadi kunjungan pertama presiden Amerika Serikat ke China sejak kunjungan terakhir Trump pada 2017. Kira-kira akan membahas apa?
Pertemuan kedua pemimpin negara diperkirakan akan membahas sejumlah isu strategis global, mulai dari perang dagang Amerika Serikat-China, ketegangan di Taiwan, Iran, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga keamanan jalur energi internasional di Selat Hormuz.
Salah satu isu yang diprediksi menjadi fokus utama ialah kebijakan penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan yang kembali memicu ketegangan hubungan Washington dan Beijing di tengah rivalitas geopolitik kedua negara.
Presiden Donald Trump menyatakan persoalan penjualan senjata ke Taiwan akan dibahas langsung bersama Xi Jinping dalam pertemuan di Beijing.
“Saya akan mendiskusikan hal itu dengan Presiden Xi,” ujar Trump seperti dikutip Reuters.
Laporan Reuters menyebut pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini menyetujui paket penjualan senjata untuk Taiwan senilai sekitar US$11 miliar.
Paket tersebut mencakup sistem roket HIMARS, rudal Javelin, rudal ATACMS, hingga howitzer M109A7 guna memperkuat pertahanan Taipei.
Kebijakan tersebut kembali menuai penolakan keras dari pemerintah China.
Presiden Xi Jinping menilai penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan melanggar prinsip “One China” serta dianggap sebagai bentuk campur tangan terhadap kedaulatan China atas Taiwan.
Prinsip “One China” merupakan kebijakan yang menyatakan hanya ada satu China di dunia, sementara pemerintah Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan bukan negara yang berdiri sendiri.
Di sisi lain, Washington tetap mempertahankan dukungan militernya terhadap Taiwan melalui Taiwan Relations Act.
Regulasi tersebut mewajibkan Amerika Serikat membantu kemampuan pertahanan Taiwan meski secara resmi mengakui kebijakan “One China”.
Associated Press menyebut isu Taiwan masih menjadi titik paling sensitif dalam hubungan Amerika Serikat dan China, terutama setelah meningkatnya aktivitas militer China di sekitar Selat Taiwan serta berlanjutnya dukungan persenjataan Washington kepada Taipei.
Donald Trump berharap ketegangan di Selat Taiwan tidak berkembang menjadi konflik terbuka selama masa pemerintahannya, meskipun Amerika Serikat tetap melanjutkan kerja sama pertahanan dengan Taiwan.
Sementara itu, Xi Jinping kembali menegaskan bahwa Taiwan merupakan “kepentingan inti” Beijing sekaligus “garis merah” dalam hubungan China dan Amerika Serikat.
Sikap tersebut sebelumnya juga ditegaskan Xi saat bertemu Presiden Amerika Serikat saat itu, Joe Biden di Bali pada November 2022.
Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyebut Xi menggambarkan isu Taiwan sebagai “inti dari kepentingan inti China” dan “red line” dalam hubungan bilateral kedua negara.(*)
