KETIK, JAKARTA – Pemerintah Iran resmi membuka kembali akses penuh Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial di tengah meredanya ketegangan geopolitik kawasan. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat, 17 April 2026 waktu setempat.
Araghchi menyatakan kapal dagang kini dapat melintas melalui jalur pelayaran yang telah dikoordinasikan. Pembukaan ini dilakukan seiring dimulainya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang sempat memicu kekhawatiran global.
Selat Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Kabar pembukaan akses ini langsung berdampak pada pasar global.
Bursa saham internasional menguat, sementara harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan. Harga crude oil tercatat merosot hingga 12 persen ke level USD 82, sedangkan minyak Brent turun ke kisaran USD 88. Penurunan ini meredakan kekhawatiran krisis energi yang sebelumnya disuarakan oleh International Energy Agency.
Meski jalur pelayaran telah dibuka, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran masih tetap diberlakukan.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan kebijakan tersebut tidak akan dicabut hingga tercapai kesepakatan damai menyeluruh dengan Teheran.
"Blokade akan berlanjut sampai transaksi kami dengan Iran selesai 100%," tegas Trump, merujuk pada negosiasi terkait program nuklir Iran yang hingga kini masih buntu.
Ia juga mengungkapkan bahwa Iran, dengan dukungan Amerika Serikat, tengah melakukan pembersihan ranjau laut di kawasan selat guna menjamin keamanan navigasi internasional.
Pembukaan Selat Hormuz terjadi di tengah gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon.
Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat telah menekan Israel untuk menghentikan serangan udara di Lebanon. Ia menilai konflik tersebut seharusnya segera diakhiri.
Di ibu kota Beirut, warga menyambut gencatan senjata dengan perayaan, termasuk tembakan ke udara. Ribuan pengungsi mulai kembali ke wilayah Lebanon selatan, meski banyak permukiman mengalami kerusakan parah.
Namun, situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan pasukan Israel tetap bertahan di “zona keamanan” sejauh 10 kilometer dari perbatasan.
Di sisi lain, Hezbollah menyatakan tetap siaga penuh dan menegaskan hak rakyat Lebanon untuk melawan pendudukan. Sementara itu, pasukan penjaga perdamaian PBB, United Nations Interim Force in Lebanon, melaporkan adanya pelanggaran wilayah udara dan serangan artileri oleh Israel di Lebanon selatan.
Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 ini telah menimbulkan korban jiwa besar di berbagai pihak. Di Iran, lebih dari 3.300 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Di Lebanon, korban jiwa melampaui 2.100 orang. Sementara di Israel, sebanyak 23 orang dilaporkan meninggal dunia. Di kawasan negara-negara Teluk, tercatat 32 korban jiwa, sedangkan Amerika Serikat kehilangan 13 personel militer serta dua korban non-tempur.
Gencatan senjata yang kini berlangsung merupakan hasil diplomasi intensif yang melibatkan berbagai pihak internasional, termasuk koordinasi antara Trump dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Proses ini juga menandai pembicaraan langsung pertama antara Israel dan Lebanon dalam beberapa dekade terakhir. Selain itu, militer Pakistan turut berperan dalam mendorong perpanjangan gencatan senjata melalui jalur diplomatik dengan Iran.
Para mediator kini memfokuskan pembahasan pada tiga isu utama, yakni program nuklir Iran, jaminan keamanan permanen di Selat Hormuz, serta kompensasi atas kerusakan akibat konflik.
Trump pun membuka peluang perpanjangan masa gencatan senjata jika proses negosiasi menunjukkan kemajuan signifikan menuju kesepakatan final.
"Jika kita sudah dekat dengan kesepakatan, apakah saya akan memperpanjangnya? Ya, saya akan melakukannya," pungkas Trump.
