KETIK, JAKARTA – Kesiapan Arab Saudi dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi jutaan jemaah haji menjadi perhatian tersendiri di tengah padatnya aktivitas ibadah di Makkah dan Madinah.
Di negara yang dikenal tandus dan minim sumber daya air itu, kebutuhan air bersih justru dapat terpenuhi dengan baik. Termasuk saat puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Arab Saudi mengandalkan teknologi desalinasi atau pengolahan air laut menjadi air bersih untuk memenuhi kebutuhan air perpipaan sehari-hari.
Sistem tersebut membuat pasokan air di hotel, permukiman, hingga perkantoran tetap tersedia dengan kualitas yang relatif seragam.
“Selama tiga hari di Makkah saya tidak pernah dibatasi dalam penggunaan air mandi. Rasanya segar dan tidak ada aroma kaporit sedikit pun sebagaimana lazimnya di kota-kota besar di Indonesia,” ujar Lukman, jemaah haji khusus asal Malang, Jawa Timur.
Pengelolaan air di Arab Saudi dilakukan secara terpusat melalui dua perusahaan milik pemerintah. Pertama, Saline Water Conversion Corporation atau SWCC yang dikenal sebagai produsen air desalinasi terbesar di dunia.
Perusahaan ini bertugas mengubah air laut menjadi air bersih untuk didistribusikan ke berbagai wilayah di Arab Saudi.
Kedua, National Water Company atau NWC yang bertanggung jawab terhadap distribusi air minum dan layanan sanitasi kepada masyarakat di berbagai kota.
Melalui pengelolaan dua perusahaan tersebut, Pemerintah Arab Saudi dinilai mampu memastikan ketersediaan air bersih bagi warga maupun jutaan jemaah haji yang datang sepanjang tahun.
Berbeda dengan Arab Saudi, sejumlah kalangan menilai tata kelola air di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan.
Regulasi sumber daya air dinilai belum sepenuhnya menjamin dominasi negara dalam pengelolaan air serta masih membuka ruang privatisasi yang berpotensi mengurangi akses masyarakat terhadap air bersih.
Karena itu, pengalaman Arab Saudi dinilai dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia, termasuk dalam pengembangan teknologi desalinasi air laut sebagai alternatif penyediaan air bersih di masa depan.(*)
Penulis adalah jemaah haji khusus asal Kota Malang, Dr. Muhammad Lukman Hakim, SIP. M.Si (Wakil Dekan II FISIP Universitas Brawijaya)
