Gravissimum Educationis Indonesia

21 Mei 2026 16:15 21 Mei 2026 16:15

Mustopa

Editor
Thumbnail Gravissimum Educationis Indonesia

Oleh: Erry Himawan*

Saya sempat kaget ketika menengok kalender yang tergantung di dinding teras, di rumah sebelah timur. Kalender ini tergatung tepat di atas kursi di mana ibu saya sering santai di tempat itu.

Gimana enggak kaget, ternyata di bulan ke-5 ini banyak tanggal merahnya. Itu pun di tengah-tengah pekan. Adalah sebuah keberuntungan bagi para pekerja karena dapat libur panjang (cuti) untuk pulang kampung.

Mumpung masih di bulan Mei (kata orang masih hangat-hangatnya) di bulan ini, setidaknya ada dua peristiwa penting yang wajib diingat oleh bangsa Indonesia. Yang pertama, adalah Hari Pendidikan Nasional dan yang kedua terkait Kebangkitan Nasional.

Untuk tema kali ini, saya lebih tertarik mengupas Pendidikan Nasional ketimbang yang kedua. Atau mungkin lain waktu jika Tuhan mengizinkan akan saya bahas yang kedua itu.

Berbicara tentang pendidikan, maka tidak bisa dilupakan akan tujuan diadakannya pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain, semua yang terlibat setidaknya wajib ingat kembali akan visi-misi pendidikan.

Sejatinya, pendidikan bukan hanya sekadar transfer ilmu pengetahuan dari pendidik ke anak didik, melainkan pembentukan manusia seutuhnya. Kok malah saya jadi teringat sebuah konsensus yang menjadi dasar Pendidikan Katolik. Konsensus itu bernama, Gravissimum Educationis.

Dalam dokumen itu, ditegaskan bahwa pendidikan punya misi luhur yaitu untuk membentuk pribadi manusia yang bermoral dan penuh tanggung jawab terhadap peradaban. Bahwa pendidikan tidak hanya membuat otak brilian tetapi juga mematangkan jiwa. Dalam konteks Indonesia, konsensus itu sangat bermakna ketika dunia pendidikan telah menyimpang, komersialisasi dan lemahnya karakter.

Kenyataan menunjukkan bahwa negeri ini mengalami kemajuan di bidang pendidikan. Tiap tahun anggaran untuk bidang yang satu ini terus naik. Angka partisipasi anak sekolah juga naik, fasilitas dan sarana bertambah, dan akses pendidikan semakin meluas.

Satu pertanyaan yang ada dalam pikiran saya, “Apakah pendidikan yang telah dijalankan ini sesuai visi-misi, dan apakah sudah berhasil mencetak generasi yang bermoral?”

Fakta menunjukkan bahwa banyak kasus justru terjadi di bidang pendidikan. Kekerasan di sekolah, korupsi dan kriminal oleh kaum terdidik, pelecehan seksual, perundungan, plagiasi, dan lain-lain, adalah indikasi bahwa pendidikan kita mengalami krisis substansi.

Banyak lulusan yang pandai mengingat, pandai berhitung, hafal pasal-pasal di luar kepala namun tidak memiliki empati, tidak setia kawan, dan tidak beretika, serta rendahnya dewasa moral.

Dalam pandangan Gravissimum Educationis, pendidikan seharusnya memanusiakan manusia. Dinyatakan lebih lanjut di dokumen tersebut bahwa pendidikan yang dilaksanakan seharusnya dapat membantu dan mendukung perkembangan moral, intelektual dan spiritual secara harmonis terhadap anak didik.

Jadi, pendidikan tidak boleh hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja semata, namun saat ini realitas pendidikan di negeri ini terjebak oleh kompetisi ekonomi dan hukum kapitalis.

Banyak kurikulum yang dibuat hanya menekankan capaian administratif dibanding pembentukan karakter. Dampaknya, banyak anak didik tumbuh dalam budaya angka: rangking, sertifikat dan gelar.

Pendidikan telah hilang rasa humanisnya seperti banyaknya beban guru (administrasi), target akademik kepada anak didik, diperparah lagi banyak orang tua terjebak gengsi institusi.

Kesenjangan makin terasa ketika pendidikan terjangkiti komersialisasi. Anak dari kalangan elit akan dapat dengan mudah mendapatkan akses pendidikan berkualitas. Sementara anak dari golongan bawah sangat sulit dan harus berjuang dengan fasilitas yang sangat terbatas. Saat ini, banyak lembaga pendidikan menjelma menjadi sebuah industri yang sulit dijangkau oleh kaum kecil. 

Menurunnya kualitas pendidikan Indonesia juga tampak pada banyaknya masyarakat yang masuk dalam tipuan berita palsu. Padahal mereka adalah masyarakat yang terdidik dan terpelajar.

Sebuah indikasi kuat bahwa pendidikan yang dijalankan gagal dalam pembentukan manusia yang memiliki kemampuan berpikir yang dalam serta dewasa demokratis. Masyarakat gampang emosi, sumbu pendek, sulit berdiskusi dengan akal sehatnya.

Persoalan lainnya adalah masih rendahnya minat baca daripada negara lain. Dampak yang dirasakan adalah anak didik lemah dalam berpikir kritis. Banyak dari mereka kesulitan ketika memahami suatu persoalan. Dapat disimpulkan, bahwa pendidikan hanya menghasilkan budaya patuh administratif ketimbang kemerdekaan berpikir dan berargumen.

Berbagai persoalan yang muncul tersebut adalah tantangan tersendiri bagi yang terlibat. Dalam konteks inilah, spirit Gravissimum Educationis harus ditegakkan kembali. Pendidikan wajib dikembalikan kepada kehormatannya yakni membentuk manusia yang utuh, beretika dan bermoral. 

Lembaga pendidikan bukan hanya tempat untuk menimba ilmu tetapi juga tempat untuk membangun jiwa dan akhlak mulia. Suatu tempat untuk membangun kesadaran etis, jiwa sosial dan humanis serta penghormatan terhadap martabat manusia. 

*) Erry Himawan merupakan Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

opini Erry Himawan Gravissimum Educationis Indonesia