KETIK, JAKARTA – Perkembangan harga pangan nasional pada pekan ketiga April 2026 menunjukkan tren yang mulai membaik, meski belum sepenuhnya stabil. Sejumlah komoditas terpantau mengalami penurunan harga, namun minyak goreng justru masih mengalami kenaikan signifikan di berbagai wilayah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) terus menurun. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut kondisi ini sebagai sinyal positif dalam pengendalian harga pangan nasional.
"Kita bersyukur, alhamdulillah tercatat ada 15 provinsi yang mengalami kenaikan IPH. Jumlah kabupaten/kota juga turun dari 149 daerah menjadi 137 daerah pada pekan ketiga April," ujar Ateng seperti dikutip dari Suara.com, jejaring media Ketik.com pada Selasa, 21 April 2026.
Meski demikian, BPS memberikan perhatian khusus terhadap komoditas minyak goreng yang menunjukkan tren kenaikan cukup tajam. Data mencatat, kenaikan harga minyak goreng kini terjadi di 207 kabupaten/kota, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya mencakup 177 daerah.
"Minyak goreng peningkatannya cukup banyak sekali. Ini sengaja kami beri tanda seru karena trennya meningkat signifikan," tegasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) berupaya menjaga stabilitas pasar. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa harga minyak goreng merek Minyakita mulai menunjukkan tren penurunan, meskipun rata-rata nasional masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp15.982 per liter.
Untuk menekan harga di tingkat konsumen, Bapanas mengusulkan optimalisasi peran BUMN pangan, seperti Bulog dan ID FOOD, melalui peningkatan alokasi Domestic Market Obligation (DMO) hingga 60 persen. Langkah ini diharapkan mampu memperpendek rantai distribusi yang selama ini dinilai terlalu panjang.
"Kita ingin distribusinya tidak kepanjangan. Dari produsen kalau bisa langsung lewat BUMN ke pengecer di pasar rakyat, supaya harga di tangan konsumen bisa ditekan," kata Ketut.
Pemerintah berharap upaya tersebut dapat menstabilkan harga minyak goreng sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika harga pangan nasional. (*)
