KETIK, SURABAYA – Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Chusni Mubarok, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi El Nino 2026 yang diprediksi memicu kemarau panjang dan kekeringan di berbagai wilayah.
Ia menegaskan, dampak fenomena ini bisa mengganggu sektor pertanian hingga ketersediaan air bersih jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Kita sudah pernah melewati berbagai dinamika ekstrem. Kuncinya adalah kolaborasi, kerja sama antara eksekutif dan legislatif, komunikasi yang baik, serta sosialisasi yang masif. Harapannya petani mendapatkan informasi serta akses dukungan agar produktivitas pangan di Jawa Timur tetap maksimal,” ujar Chusni.
Berdasarkan rilis BMKG Jawa Timur pada Maret 2025, musim kemarau diperkirakan mulai April 2026 dan mencapai puncak pada Agustus 2026.
Bahkan, sebagian wilayah diprediksi lebih cepat memasuki puncak kemarau pada Juli, dengan durasi musim kering yang bisa berlangsung hingga 7–8 bulan.
Fenomena El Nino sendiri terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Akibatnya, pembentukan awan di wilayah Indonesia terhambat sehingga curah hujan menurun drastis dan suhu udara terasa lebih panas.
Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan, menurunnya hasil pertanian, serta terbatasnya pasokan air bersih di sejumlah daerah. Karena itu, diperlukan langkah antisipasi yang cepat dan terukur.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun telah menyiapkan sejumlah strategi menghadapi potensi tersebut. Mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan, pembangunan sumur dalam, hingga penguatan sistem irigasi dan penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Dengan kondisi cuaca yang mulai terasa lebih panas dan hujan yang kian jarang, masyarakat diimbau tidak lengah. Kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kemarau panjang yang dipicu El Nino. (*)
