KETIK, SURABAYA – Momen Lebaran identik dengan bagi-bagi angpau atau THR bagi anak-anak. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, uang tersebut berisiko ludes seketika untuk hal konsumtif.
Dosen Ekonomi Syariah UM Surabaya, Fatkur Huda, membedah strategi praktis bagi orang tua untuk mengedukasi pengelolaan keuangan anak sesuai fase perkembangannya.
Berikut adalah panduan manajemen keuangan anak berdasarkan kategori usia:
1. Usia 4–6 Tahun: Literasi Kebutuhan vs Keinginan
Pada fase ini, anak mulai dikenalkan pada skala prioritas sederhana.
Fokus: Membedakan barang yang benar-benar dibutuhkan dengan yang sekadar diinginkan.
Aksi: Ajak anak berdiskusi sebelum membeli barang. Gunakan contoh nyata seperti mengalokasikan uang untuk peralatan sekolah yang mendukung belajar daripada sekadar mainan tambahan.
2. Usia 7–12 Tahun (SD): Pengelolaan Produktif
Anak usia sekolah dasar sudah bisa diarahkan untuk mengenal konsep akumulasi kekayaan agar uang tidak habis sekejap.
Fokus: Menabung, investasi jangka pendek, dan pengenalan wirausaha
Aksi: Orang tua mendampingi anak menetapkan target dari hasil tabungan atau usaha kecilnya. Evaluasi berkala sangat penting untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab.
3. Usia 13–15 Tahun (SMP): Kebebasan Bertanggung Jawab
Memasuki usia remaja, pendekatan yang dilakukan harus lebih dewasa dengan memberikan ruang kemandirian.
Fokus: Investasi masa depan dan smart shopping.
Aksi: Orang tua bisa mulai mengenalkan instrumen investasi jangka panjang seperti pembukaan rekening tabungan pendidikan atas nama anak atau investasi emas. Berikan kebebasan mengelola uang, namun tetap dalam koridor nilai kebutuhan.
4. Usia 16–18 Tahun (SMA): Menghargai Nilai Uang
Meski kebutuhan masih ditanggung orang tua, remaja perlu memahami proses di balik perolehan uang.
Fokus: Kemandirian dan empati finansial.
Aksi: Edukasi anak tentang sulitnya mencari uang. Tujuannya bukan menjadikan mereka pencari nafkah, melainkan agar mereka lebih berhati-hati dan hemat dalam membelanjakan angpau yang telah didapatkan.
Pengelolaan THR bukan sekadar menahan diri untuk tidak belanja, melainkan media pembelajaran agar anak memahami fungsi uang sebagai alat investasi masa depan, bukan hanya alat tukar barang. (*)
